A. Mukti Ali

Cepu, Jawa Tengah · 1923 – 2004
A. Mukti Ali
Lahir 1923
Cepu, Jawa Tengah
Wafat 2004
Afiliasi IAIN Sunan Kalijaga, Kementerian Agama RI
Pendidikan
  • Pesantren Krapyak, Tegalrejo, dan Tambakberas
  • Al-Azhar University, Kairo, Mesir (L.C., 1955)
  • Baghdad University, Irak (Department of Religion, 1970)
  • McGill University, Kanada (M.A. Islamic Studies, 1957)
Bidang ilmu perbandingan agama, sosiologi agama, politik keagamaan

Pokok Pikiran & Kontribusi

Metodologi Ilmiah-Agamais dalam studi agama; pelopor perbandingan agama di Indonesia; konsep 'Setuju dalam Perbedaan' (*Agree in Disagreement*); modernisasi birokrasi dan pendidikan agama.

Prof. Dr. H. Abdul Mukti Ali adalah tokoh kunci dalam sejarah pemikiran dan kebijakan keagamaan di Indonesia yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Perbandingan Agama”. Sebagai intelktual lulusan McGill University, ia membawa hembusan segar metodologi ilmiah Barat ke dalam lingkungan akademik IAIN yang saat itu masih sangat tradisional. Ia percaya bahwa untuk menjadi umat beragama yang kokoh di tengah kemajemukan, kita tidak cukup hanya memahami agama sendiri, tetapi juga harus berani mempelajari agama lain secara objektif dan empatik.

Selama menjabat sebagai Menteri Agama (1971-1978), Mukti Ali merumuskan filosofi yang sangat terkenal: “Setuju dalam Perbedaan” (Agree in Disagreement). Konsep ini merupakan tawaran pragmatis sekaligus filosofis untuk menjaga keharmonisan nasional; bahwa kita tidak perlu menyamakan semua ajaran agama (sinkretisme), namun kita harus bersepakat untuk saling menghormati di tengah perbedaan doktrin yang nyata. Ia adalah arsitek dari kerukunan umat beragama yang berbasis pada dialog nyata, bukan sekadar basa-basi seremonial.

Mukti Ali juga berperan besar dalam modernisasi sistem pendidikan Islam (IAIN) dan birokrasi Kementerian Agama. Ia memperkenalkan pendekatan “Ilmiah-Agamais”, yaitu sebuah cara mempelajari agama yang menggunakan perangkat ilmu sosial (sosiologi, antropologi, sejarah) agar ajaran agama bisa lebih fungsional dalam merespons tantangan pembangunan masyarakat modern. Baginya, agama harus menjadi pendorong kemajuan, bukan penghambat perubahan. Ia berhasil mendamaikan aspirasi umat Islam dengan kebutuhan negara akan stabilitas dan modernisasi Orde Baru secara cerdas.

Warisannya tetap hidup melalui jurusan Perbandingan Agama yang ia rintis, yang telah melahirkan ribuan akademisi yang memiliki wawasan inklusif. Mukti Ali telah membuktikan bahwa seorang santri bisa menjadi ilmuwan yang diakui secara global tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Ia adalah teladan tentang moderasi yang berbasis pada kecerdasan intelektual, seorang kiai-ilmuwan yang mengajarkan bahwa kedamaian di Indonesia hanya bisa dirawat jika kita memiliki kerendahan hati untuk terus belajar satu sama lain di bawah payung kemanusiaan yang sama.

Karya Utama

  • Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Modern (1971) Buku
  • Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia (1970) Buku
  • Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam (1991) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026