Abdul Hadi W.M.

Sumenep, Madura, Jawa Timur · 1946 – 2024
Abdul Hadi W.M.
Lahir 1946
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Wafat 2024
Afiliasi Universitas Paramadina, Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera)
Pendidikan
  • Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM)
  • Antropologi, Universitas Padjadjaran (Unpad)
  • Doktor (Ph.D) Sastra & Pemikiran Islam, Universitas Sains Malaysia (USM)
Bidang sastra, filsafat, agama

Pokok Pikiran & Kontribusi

Mempelopori gerakan 'Kembali ke Akar' dalam sastra Indonesia melalui kebangkitan Sastra Sufistik dan Estetika Profetik sebagai antitesis terhadap sekularisme ekstrem.

Abdul Hadi W.M. adalah seorang begawan sastra, filsuf, dan akademisi yang memiliki pengaruh mendalam dalam peta intelektual Indonesia, khususnya dalam menjembatani dimensi ketuhanan dengan ekspresi estetis. Sebagai salah satu tokoh utama dalam gerakan “Kembali ke Akar” pada tahun 1970-an, ia mendorong para sastrawan Nusantara untuk menggali kekayaan tradisi lokal dan spiritualitas Islam daripada sekadar mengekor pada arus modernisme Barat yang seringkali bersifat sekuler. Melalui penelitian doktoralnya tentang Hamzah Fansuri, ia berhasil mengangkat kembali nama penyair sufi agung Nusantara tersebut ke permukaan wacana akademik modern.

Pemikiran orisinal Abdul Hadi terletak pada konsep “Estetika Profetik” yang dikembangkannya bersama tokoh seperti Kuntowijoyo. Baginya, sebuah karya seni tidak boleh berhenti pada fungsi estetika semata (art for art’s sake), melainkan harus mengemban misi kenabian: kemanusiaan (humanisasi), pembebasan (liberasi), dan ketuhanan (transendensi). Ia meyakini bahwa sastra memiliki kekuatan untuk memanusiakan kembali manusia di tengah gempuran materialisme modern. Melalui puisi-puisinya yang bernapas sufistik, seperti dalam buku Meditasi, ia mengajak pembaca untuk merenungkan eksistensi diri di hadapan Sang Khalik.

Sepanjang kariernya sebagai Guru Besar di Universitas Paramadina, ia tidak lelah menyuarakan pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan, agama, dan budaya. Sebagai seorang penerjemah ulung, ia juga berjasa besar dalam memperkenalkan karya-karya sufi dunia seperti Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal ke dalam bahasa Indonesia dengan interpretasi yang segar. Warisan intelektualnya melampaui barisan kata-kata dalam puisi; ia telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi diskursus filsafat kebudayaan Indonesia yang berakar pada nilai-nilai spiritualitas yang inklusif dan universal.

Karya Utama

  • Meditasi (Kumpulan Puisi) (1976) Buku
  • Kembali ke Akar Kembali ke Sumber (Esai) (1999) Buku
  • Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri (2001) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026