Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
| Lahir | 1940 Jombang, Jawa Timur |
| Wafat | 2009 |
| Afiliasi | Nahdlatul Ulama (NU), Forum Demokrasi, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) |
| Pendidikan |
|
| Bidang | agama, politik, pluralisme, humanisme |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Pribumisasi Islam sebagai penolakan terhadap Arabisasi; pluralisme sebagai pengakuan terhadap keberagaman; demokrasi sebagai proses budaya; humanisme universal di mana 'Tuhan tak perlu dibela'.
K.H. Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur, adalah intelektual Muslim paling unik dan transformatif dalam sejarah Indonesia modern. Sebagai cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama (K.H. Hasyim Asy’ari), ia membawa otoritas tradisional pesantren ke dalam diskursus modern mengenai demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Bagi Gus Dur, Islam bukan hanya sekadar ritual formal, melainkan energi moral yang harus membela kaum tertindas dan minoritas.
Gagasan “Pribumisasi Islam” adalah salah satu kontribusi teoretis terpentingnya. Ia berargumen bahwa Islam di Indonesia harus memiliki karakter budaya Nusantara yang khas tanpa kehilangan substansi ajarannya. Gus Dur secara tegas menolak arus “Arabisasi” yang dianggapnya bisa mencerabut akar budaya bangsa. Baginya, Islam adalah rahmat yang bersifat inklusif, sehingga ekspresi keislaman di Indonesia dapat menggunakan “sarung” dan “peci” tanpa harus memaksakan simbol-simbol luar yang asing bagi kedaulatan budaya lokal.
Sebagai “Bapak Pluralisme”, Gus Dur secara konsisten membela hak-hak kelompok minoritas, baik etnis maupun agama. Saat menjabat sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, ia mengambil langkah berani dengan mengakui agama Khonghucu dan meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional, menghapus diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa yang telah berlangsung puluhan tahun. Kalimat terkenalnya, “Tuhan tak perlu dibela karena Ia Maha Kuasa,” merupakan kritik tajam terhadap praktik kekerasan atas nama agama yang justru sering mengabaikan sisi kemanusiaan.
Di ranah politik, Gus Dur melihat demokrasi bukan sekadar prosedur pemilihan, melainkan sebuah proses budaya yang membutuhkan kedewasaan moral kolektif. Ia sering menggunakan humor dan teka-teki untuk meruntuhkan kekakuan birokrasi dan kekuasaan yang otoriter. Meski kepemimpinannya kontroversial dan berakhir dengan pemakzulan politik, warisan pemikirannya tentang Islam yang ramah, demokratis, dan sangat humanis menjadikannya ikon abadi kemajemukan Indonesia yang terus dirujuk oleh generasi setelahnya.
Karya Utama
- Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006) Buku
- Tuhan Tak Perlu Dibela (1982) Kumpulan Esai
- Muslim di Tengah Pergumulan (1981) Buku
- Prisma Pemikiran Gus Dur (1999) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim