Ahmad Amiruddin
| Lahir | 1932 Wajo, Sulawesi Selatan |
| Wafat | 2014 |
| Afiliasi | Universitas Hasanuddin, ITB, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan |
| Pendidikan |
|
| Bidang | sains, politik, pendidikan |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Transformasi ekonomi daerah melalui strategi 'Tri Konsep' (Pengwilayahan Komoditas, Perubahan Pola Pikir, Petik-Olah-Jual) serta modernisasi pendidikan tinggi berbasis riset.
Ahmad Amiruddin adalah seorang ilmuwan kimia nuklir, pendidik, dan negarawan yang membawa perubahan fundamental bagi Sulawesi Selatan dan pendidikan tinggi di Indonesia Timur. Meraih gelar doktor dari Amerika Serikat pada usia 29 tahun, ia merupakan salah satu ahli kimia nuklir pertama Indonesia yang memiliki visi teknokratis yang kuat. Sebagai Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 1973–1982, Amiruddin adalah arsitek utama di balik pembangunan kampus Tamalanrea yang modern dan luas, sebuah langkah berani yang mengubah wajah pendidikan di Makassar dari kampus yang tersebar menjadi pusat akademik terpadu yang prestisius.
Pemikiran Amiruddin mencapai puncaknya saat ia menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan selama dua periode (1983–1993). Ia merumuskan strategi ekonomi legendaris yang dikenal sebagai “Tri Konsep”. Inti dari pemikirannya adalah pengwilayahan komoditas berdasarkan potensi lokal serta penguatan hilirisasi produk pertanian melalui jargon “Petik, Olah, Jual”. Ia menekankan bahwa petani tidak boleh hanya menjual bahan mentah, melainkan harus mendapatkan nilai tambah melalui proses industrialisasi di tingkat daerah. Visi ini berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel yang stabil dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan secara signifikan melalui nalar ilmiah yang dipadukan dengan kebijakan publik.
Di luar pencapaian birokratisnya, Ahmad Amiruddin dihormati sebagai intelektual yang memiliki integritas tinggi dan keteladanan moral. Ia dikenal sangat disiplin dalam mendorong para staf dan dosen mudanya untuk menempuh pendidikan doktoral di luar negeri demi kemandirian sains nasional. Meskipun berkiprah di dunia politik sebagai Gubernur dan Wakil Ketua MPR, ia tetap mempertahankan jati dirinya sebagai ilmuwan yang bekerja berdasarkan data dan logika objektif. Warisan fisiknya berupa kampus Tamalanrea dan warisan pemikirannya dalam pembangunan ekonomi wilayah tetap menjadi rujukan vital bagi kemajuan peradaban di Indonesia Timur hingga saat ini.
Karya Utama
- Tri Konsep Pembangunan Sulawesi Selatan (1983) Kebijakan
- Pengembangan Universitas Hasanuddin: Menuju Kampus Tamalanrea (1975) Laporan/Esai
- Kimia Nuklir dan Aplikasinya (1965) Buku Teks
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim