Ahmad Baso

Makassar, Sulawesi Selatan · 1971
Ahmad Baso
Lahir 1971
Makassar, Sulawesi Selatan
Afiliasi Nahdlatul Ulama (NU), Lakpesdam NU, Komnas HAM
Pendidikan
  • Pondok Pesantren An-Nahdlah, Makassar
  • LIPIA Jakarta
  • STF Driyarkara Jakarta
Bidang agama, sejarah, sosiologi

Pokok Pikiran & Kontribusi

Mendekonstruksi narasi kolonial dalam studi Islam di Indonesia melalui pendekatan post-kolonialisme dan merumuskan ijtihad intelektual 'Islam Nusantara'.

Ahmad Baso adalah seorang intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) dan peneliti yang dikenal karena pendekatannya yang kritis terhadap sejarah dan budaya Islam di Indonesia. Tumbuh dalam tradisi pesantren yang kuat di Makassar, ia berhasil memadukan khazanah intelektual klasik pesantren dengan teori-teori sosial modern, khususnya post-kolonialisme. Baso dikenal sebagai sosok otodidak yang tekun melacak manuskrip-manuskrip Nusantara yang terabaikan, menjadikannya salah satu arsitek intelektual terpenting di balik diskursus “Islam Nusantara” yang menjadi arus utama dalam pemikiran NU kontemporer.

Pemikiran utama Ahmad Baso berfokus pada upaya dekolonisasi pengetahuan. Terinspirasi oleh Edward Said dan Michel Foucault, ia menggunakan kacamata post-kolonial untuk membedah bagaimana studi Islam di Indonesia selama berabad-abad seringkali didominasi oleh perspektif orientalis yang bias. Melalui buku monumentalnya, Islam Pasca-Kolonial, ia berargumen bahwa umat Islam Indonesia harus merebut kembali otoritas narasinya sendiri dan menghargai “ijtihad jenius” para ulama terdahulu yang telah berhasil mendialogkan nilai-nilai Islam dengan kebudayaan lokal tanpa kehilangan esensinya. Ia menekankan bahwa lokalitas bukanlah kelemahan, melainkan basis kekuatan sipil (civil society) yang autentik.

Karya-karyanya yang sangat tebal dan berbasis riset mendalam, seperti seri Pesantren Studies, menunjukkan dedikasinya dalam melakukan arkeologi pemikiran terhadap dunia pesantren. Bagi Baso, pesantren bukan sekadar institusi pendidikan tradisional, melainkan pusat produksi pengetahuan yang memiliki kedalaman intelektual yang setara dengan pemikiran global. Sebagai intelektual publik yang pernah menjabat sebagai Komisioner Komnas HAM, ia terus aktif menyuarakan pentingnya pluralisme yang berakar pada tradisi, menjadikan pemikirannya sebagai jembatan penting bagi dialog antara agama, negara, dan kebudayaan di Indonesia modern.

Karya Utama

  • Islam Pasca-Kolonial: Perselingkuhan Agama, Kolonialisme, dan Liberalisme (2005) Buku
  • Islam Nusantara: Ijtihad Jenius dan Ijma' Ulama Indonesia (2015) Buku
  • Seri Pesantren Studies (2012) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026