Ahmad Syafii Maarif

Sumpur Kudus, Sumatera Barat · 1935 – 2022
Ahmad Syafii Maarif
Lahir 1935
Sumpur Kudus, Sumatera Barat
Wafat 2022
Afiliasi Muhammadiyah, Maarif Institute, IKIP Yogyakarta
Pendidikan
  • Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Yogyakarta
  • IKIP Yogyakarta (S1 Sejarah, 1968)
  • Ohio State University, AS (M.A., 1980)
  • University of Chicago, AS (Ph.D. Sejarah, 1983)
Bidang sejarah, humanisme Islam, politik, kebangsaan

Pokok Pikiran & Kontribusi

Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan; energi moral Islam sebagai landasan demokrasi; menolak politik identitas; humanisme egaliter; sejarah kritis.

Ahmad Syafii Maarif, atau yang akrab disapa Buya Syafii, adalah seorang sejarawan dan intelektual Muslim yang dikenal sebagai “Guru Bangsa”. Sebagai mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia berhasil membawa organisasi tersebut ke arah yang lebih inklusif dan progresif. Buya Syafii adalah sosok yang sangat rendah hati namun memiliki keteguhan luar biasa dalam membela nilai-nilai kemanusiaan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Pemikiran Buya Syafii berpusat pada penempatan Islam di dalam bingkai “Keindonesiaan dan Kemanusiaan”. Sebagai seorang sejarawan (lulusan Chicago di bawah bimbingan Fazlur Rahman), ia memiliki perspektif yang kritis terhadap sejarah politik Islam. Dalam disertasinya yang terkenal, ia membedah perdebatan di Konstituante dan menyimpulkan bahwa Islam tidak harus formal secara politik untuk tetap efektif sebagai energi moral. Ia dengan tegas menolak penggunaan agama sebagai alat kekuasaan atau politik identitas yang memecah-belah rakyat.

Keadilan sosial dan humanisme adalah inti dari pesan-pesannya. Buya Syafii meyakini bahwa Al-Qur’an diturunkan “untuk manusia”, artinya tujuannya adalah memuliakan martabat manusia dan menciptakan tatanan sosial yang egaliter. Ia seringkali mengkritik keras fenomena keberagamaan yang hanya berfokus pada simbol-simbol luar sementara mengabaikan substansi keadilan. Baginya, kesalehan pribadi tidak ada artinya jika tidak disertai dengan kesalehan sosial yang aktif membela kelompok yang terpinggirkan (mustadh’afin).

Di masa senjanya, Buya Syafii tetap menjadi kompas moral bagi republik ini. Ia konsisten menyuarakan pentingnya nasionalisme yang beradab dan pluralisme yang otentik. Melalui Maarif Institute, ia menanamkan nilai-nilai toleransi dan pemikiran kritis kepada generasi muda. Warisan terbesarnya bukan hanya berupa tumpukan buku, melainkan keteladanan hidup sebagai intelektual yang berintegritas—seorang kiai yang mampu mencintai tanah airnya dengan cara yang paling rasional dan penuh kasih.

Karya Utama

  • Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara (1985) Buku (Disertasi)
  • Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (2009) Buku
  • Membumikan Islam (1995) Buku
  • Al-Quran Untuk Tuhan Atau Untuk Manusia? (2011) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026