Ajip Rosidi

Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat · 1938 – 2020
Ajip Rosidi
Lahir 1938
Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat
Wafat 2020
Afiliasi Yayasan Kebudayaan Rancage, Universitas Osaka Gaidai, IKAPI
Pendidikan
  • Autodidak (Doktor Honoris Causa, Universitas Padjadjaran, 2011)
Bidang sastra, budaya, sejarah

Pokok Pikiran & Kontribusi

Mengusung konsep 'Renaisans Sunda' sebagai upaya revitalisasi nilai lokal untuk memperkuat identitas nasional, serta menekankan kemandirian intelektual melalui prinsip 'Hidup Tanpa Ijazah'.

Ajip Rosidi adalah seorang raksasa dalam peta kebudayaan Indonesia yang membuktikan bahwa kualitas intelektual tidak selalu ditentukan oleh selembar ijazah formal. Sebagai tokoh autodidak yang fenomenal, ia berhasil mencapai posisi profesor di Jepang dan menerima berbagai penghargaan internasional berkat ketekunannya dalam meneliti, menulis, dan mengorganisir gerakan kebudayaan. Fokus utamanya adalah pelestarian dan pengembangan budaya daerah, khususnya Sunda, yang ia yakini sebagai pilar penyokong kebudayaan nasional yang paling kokoh.

Pemikiran orisinal Ajip berpusat pada gagasan revitalisasi budaya yang ia istilahkan sebagai “Renaisans Sunda”. Baginya, budaya lokal tidak boleh hanya menjadi artefak nostalgia, melainkan harus digali kembali nilai-nilainya untuk menjawab tantangan zaman. Melalui buku monumentalnya, Manusia Sunda, ia membedah watak dan jati diri etnisnya secara kritis sekaligus visioner. Ia juga mempelopori berdirinya Yayasan Kebudayaan Rancagé yang memberikan penghargaan bagi penulis karya sastra daerah, sebuah langkah nyata untuk menjaga keberagaman linguistik dan pemikiran di Nusantara.

Kemandirian intelektual adalah nafas kehidupan Ajip. Prinsip “Hidup Tanpa Ijazah” yang ia jalani bukan sekadar bentuk pembangkangan terhadap sistem formal, melainkan sebuah pernyataan filosofis tentang pentingnya proses belajar sepanjang hayat dan integritas karya. Sebagai penulis yang luar biasa produktif, karyanya mencakup ratusan judul buku mulai dari puisi, esai, hingga penelitian sejarah sastra. Warisannya berupa Ensiklopedi Sunda tetap menjadi rujukan paling otoritatif, menjadikannya sosok yang berhasil mengawinkan tradisi intelektual lokal dengan metodologi pendokumentasian modern.

Karya Utama

  • Manusia Sunda (1984) Buku
  • Hidup Tanpa Ijazah (2008) Memoar
  • Ensiklopedi Sunda (2000) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026