M. Amin Abdullah

Pati, Jawa Tengah · 1953
M. Amin Abdullah
Lahir 1953
Pati, Jawa Tengah
Afiliasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)
Pendidikan
  • Studi Agama, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Doktor (Ph.D) Filsafat, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki
Bidang agama, filsafat, pendidikan

Pokok Pikiran & Kontribusi

Merumuskan paradigma 'Integrasi-Interkoneksi' ilmu guna mendobrak dikotomi antara ilmu agama dan sains modern serta membedah ketegangan antara normativitas dan historisitas dalam keberagamaan.

Prof. Dr. M. Amin Abdullah adalah seorang filsuf, akademisi, dan tokoh pembaruan pemikiran Islam kontemporer Indonesia yang memiliki kontribusi revolusioner dalam merestrukturisasi epistemologi pendidikan Islam. Sebagai intelektual yang menempuh studi doktoral filsafat di Turki, ia berhasil memadukan tradisi keilmuan pesantren yang mendalam dengan metodologi berpikir Barat yang kritis dan sistematis. Kiprahnya sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadikannya arsitek utama di balik transformasi IAIN menjadi UIN di seluruh Indonesia, sebuah langkah administratif yang didorong oleh visi filosofis yang sangat kuat.

Inti kontribusi pemikiran Amin Abdullah adalah paradigma “Integrasi-Interkoneksi”. Ia melakukan kritik tajam terhadap dikotomi atau pemisahan kaku antara “ilmu agama” (sacred knowledge) dan “ilmu umum” (profane knowledge) yang dianggapnya telah menyebabkan stagnasi peradaban Muslim. Melalui metafora “Jaring Laba-laba” (Spider Web), ia mengadvokasi bahwa setiap disiplin ilmu tidak boleh berdiri sendiri; ilmu agama harus terbuka terhadap temuan sains modern, dan sebaliknya, sains harus memiliki landasan etis-religius. Baginya, pemahaman keagamaan harus mampu membedakan antara teks wahyu yang absolut (normativitas) dengan produk pemikiran manusia yang terikat ruang dan waktu (historisitas), guna mencegah radikalisme dan kejumudan berpikir.

Selain di bidang pendidikan, Amin Abdullah juga dikenal karena kepakarannya dalam membandingkan sistem etika global (seperti Al-Ghazali dan Immanuel Kant). Ia secara konsisten menyuarakan pentingnya moderasi beragama yang berbasis pada kesarjanaan yang jujur dan dialog lintas budaya. Melalui karya-karyanya yang sangat produktif, ia berhasil meletakkan dasar bagi pengembangan “ulama-intelek” yang mampu menjawab tantangan sains dan kemanusiaan universal tanpa harus kehilangan akar spiritualitasnya. Warisan pemikirannya memberikan landasan teoretis bagi masa depan Islam Indonesia yang inklusif, rasional, dan berorientasi pada kemajuan peradaban.

Karya Utama

  • Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (1995) Buku
  • Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif (2006) Buku
  • Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (1996) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026