| Lahir | 1941 Jakarta |
| Wafat | 2020 |
| Afiliasi | Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Melbourne |
| Pendidikan |
|
| Bidang | sosiologi, sastra, politik |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Mencetuskan gagasan 'Sastra Kontekstual' sebagai antitesis universalitas semu, serta mempopulerkan gerakan moral-politik 'Golput' di tengah otoritarianisme.
Arief Budiman adalah sosok intelektual organik yang perjalanannya mencerminkan kegigihan dalam membela integritas pikiran dan keberpihakan pada keadilan sosial. Lahir dengan nama Soe Hok Djin, ia bertransformasi dari seorang pembela otonomi seni pada masa muda (sebagai penandatangan Manifesto Kebudayaan) menjadi sosiolog kritis yang sangat peduli pada isu-isu struktural kemiskinan dan penindasan politik di era kematangannya. Gelar doktor dari Harvard University dijadikannya instrumen untuk membedah ketimpangan pembangunan di Dunia Ketiga, menjadikannya salah satu sosiolog paling dihormati sekaligus disegani oleh penguasa.
Pemikiran orisinal Arief Budiman yang paling bergema dalam dunia kebudayaan adalah konsep “Sastra Kontekstual”. Bersama sejumlah rekan, ia menggugat hegemoni standar “universalitas” seni yang selama ini didominasi oleh nilai-nilai estetika Barat. Bagi Arief, sastra tidak boleh hanya menjadi “menara gading” bagi elit; sastra harus berpijak pada konteks sosial-ekonomi di mana ia diciptakan agar mampu menjadi alat perjuangan bagi rakyat tertindas. Gagasan ini memicu perdebatan sengit yang memperkaya diskursus kritis dalam perkembangan pemikiran sastra dan budaya di Indonesia.
Di kancah politik, Arief dikenal karena konsistensi moralnya dalam memperjuangkan demokrasi. Ia adalah salah satu pencetus gerakan Golongan Putih (Golput) pada awal dekade 1970-an sebagai bentuk protes intelektual terhadap sistem pemilu Orde Baru yang dianggapnya cacat secara demokrasi. Sebagai akademisi di UKSW Salatiga dan kemudian di Universitas Melbourne, ia terus menyuarakan pentingnya otonomi universitas dan keberanian intelektual untuk melawan segala bentuk otoritarianisme. Warisan pemikirannya yang memadukan psikologi, sosiologi, dan aktivisme sastra tetap relevan sebagai panduan bagi para intelektual publik untuk tidak pernah berhenti menjadi suara bagi mereka yang dibungkam.
Karya Utama
- Sastra Kontekstual (1984) Buku
- Teori Pembangunan Dunia Ketiga (1989) Buku
- Negara dan Pembangunan: Studi tentang Indonesia dan Korea Selatan (1991) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim