Bernard Wilhelm Lapian

Kawangkoan, Sulawesi Utara · 1892 – 1977
Bernard Wilhelm Lapian
Lahir 1892
Kawangkoan, Sulawesi Utara
Wafat 1977
Afiliasi KGPM (Kerapatan Gereja Protestan Minahasa), Volksraad
Pendidikan
  • Studi Jurnalisme & Politik, Batavia (Jakarta)
Bidang agama, jurnalisme, politik

Pokok Pikiran & Kontribusi

Mengadvokasi kemandirian institusi keagamaan dan politik melalui pendirian KGPM sebagai upaya dekolonisasi gereja serta memobilisasi massa lewat jurnalisme perjuangan.

Bernard Wilhelm Lapian adalah seorang Pahlawan Nasional dan intelektual-praktisi yang dikenal sebagai “Pejuang Tiga Zaman” karena konsistensi dedikasinya dari masa kolonial hingga awal kemerdekaan Indonesia. Sebagai putra Minahasa, ia menggunakan jurnalisme dan organisasi keagamaan sebagai instrumen utama untuk memerdekakan pikiran bangsanya dari belenggu kolonialisme. Ia meyakini bahwa kedaulatan politik harus dibarengi dengan kedaulatan spiritual dan intelektual, sebuah pandangan yang menempatkannya sebagai salah satu tokoh paling visioner dari wilayah Indonesia Timur.

Kontribusi intelektual Lapian yang paling fundamental adalah pendirian Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) pada tahun 1933. Langkah berani ini merupakan tindakan dekolonisasi gereja, di mana ia memisahkan institusi keagamaan lokal dari Indische Kerk yang merupakan gereja bentukan pemerintah kolonial Belanda. Bagi Lapian, kemandirian gereja adalah manifestasi dari kemandirian martabat bangsa. Filosofinya menegaskan bahwa jika agama digunakan oleh penjajah sebagai alat kontrol, maka agama juga harus menjadi alat pembebasan melalui penguatan nilai-nilai nasionalisme yang mandiri dan berintegritas.

Dalam dunia jurnalisme, Lapian mendirikan dan mengelola surat kabar seperti Fadjar Kemadjoean untuk mengkritik kebijakan kolonial dan membangkitkan kesadaran kolektif rakyat Sulawesi Utara. Perannya di Volksraad (Dewan Rakyat) bersama M.H. Thamrin membuktikan kapasitasnya dalam memperjuangkan hak-hak rakyat di tingkat legislatif. Kepemimpinannya dalam peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado serta kiprahnya sebagai Gubernur Sulawesi merupakan bukti nyata bahwa pemikiran nasionalisnya tidak hanya berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan dalam pengabdian panjang bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karya Utama

  • Fadjar Kemadjoean (Pendiri) (1924) Surat Kabar
  • Pangkal Kemadjoean (Artikel) (1920) Artikel
  • Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (Pendiri) (1933) Esai

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026