Burhanuddin Mohammad Diah

Banda Aceh, Aceh · 1917 – 1996
Burhanuddin Mohammad Diah
Lahir 1917
Banda Aceh, Aceh
Wafat 1996
Afiliasi Harian Merdeka, PWI, Kementerian Penerangan
Pendidikan
  • Ksatrian Instituut, Bandung
Bidang jurnalisme, politik, sejarah

Pokok Pikiran & Kontribusi

Menjadikan pers sebagai instrumen perjuangan kedaulatan nasional serta mengadvokasi kemandirian politik Indonesia melalui diplomasi opini publik.

Burhanuddin Mohammad Diah, atau yang lebih dikenal sebagai B.M. Diah, adalah sosok sentral dalam sejarah jurnalisme dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai seorang wartawan pejuang, ia mewujudkan keyakinan bahwa pena memiliki kekuatan yang setara dengan senjata dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Didikan Dr. Danudirja Setiabudi (Douwes Dekker) di Ksatrian Instituut Bandung membentuk karakter nasionalisme radikalnya yang kemudian ia tuangkan dalam berbagai publikasi yang berani menantang otoritas kolonial Belanda dan Jepang.

Kontribusi intelektual B.M. Diah yang paling fenomenal adalah pendirian Harian Merdeka pada 1 Oktober 1945, hanya beberapa minggu setelah proklamasi kemerdekaan. Surat kabar ini menjadi garda terdepan dalam menyebarkan semangat perjuangan dan menggalang solidaritas rakyat Indonesia di tengah kepungan sensor sekutu. Baginya, jurnalisme bukan sekadar profesi penyampai berita, melainkan alat pendidikan politik yang harus mampu membangkitkan kesadaran nasional. Perannya dalam menyelamatkan naskah asli proklamasi yang dibuang oleh Sayuti Melik menunjukkan kesadarannya yang tinggi akan pentingnya dokumen sejarah bagi identitas bangsa di masa depan.

Pemikiran politik B.M. Diah juga tercermin dalam kariernya sebagai diplomat dan menteri. Ia meyakini bahwa martabat Indonesia di mata internasional sangat bergantung pada keberhasilan narasi yang dibangun melalui pers nasional yang mandiri. Melalui “Diplomasi Pers”, ia berupaya membuktikan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia memiliki kapasitas intelektual dan moral untuk mengatur dirinya sendiri. Warisannya dalam dunia jurnalisme tetap menjadi rujukan utama mengenai integritas wartawan yang menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan komersial, menjadikannya salah satu bapak pers yang paling dihormati dalam sejarah Indonesia.

Karya Utama

  • Harian Merdeka (Pendiri) (1945) Surat Kabar
  • Angkatan Baru (Pendiri) (1945) Surat Kabar
  • Naskah Asli Proklamasi (Penyelamat) (1945) Memoar

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026