Brian Yuliarto
Lahir 1975
Jakarta
Afiliasi Institut Teknologi Bandung, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Pendidikan
  • Sarjana Teknik Fisika (S1), Institut Teknologi Bandung, 1999
  • Magister (S2) Quantum Engineering and System Science, Universitas Tokyo, Jepang, 2002
  • Doktoral (Ph.D.) Quantum Engineering and System Science, Universitas Tokyo, Jepang, 2005
Bidang nanoteknologi, teknik fisika, material fungsional

Pokok Pikiran & Kontribusi

Menekankan pada hilirisasi riset and kemandirian teknologi bangsa; riset harus menjawab tantangan industri and kebutuhan masyarakat melalui inovasi material fungsional.

Brian Yuliarto adalah seorang ilmuwan terkemuka di bidang nanoteknologi and teknik fisika yang memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan material fungsional untuk aplikasi energi and lingkungan. Lahir pada 27 Juli 1975, ia menempuh pendidikan sarjana di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) and melanjutkan studi doktoral di University of Tokyo, Jepang, di bidang Quantum Engineering and System Science. Karier akademiknya mencapai puncaknya sebagai Guru Besar di ITB, di mana ia juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) periode 2020–2024.

Pemikiran utama Brian berfokus pada konsep hilirisasi riset and kemandirian teknologi bangsa. Ia menekankan bahwa riset di perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, melainkan harus mampu menjawab tantangan industri and kebutuhan masyarakat. Melalui kepakarannya dalam nanomaterial, ia mengembangkan berbagai inovasi seperti biosensor untuk deteksi cepat penyakit menular (termasuk COVID-19 and demam berdarah), sensor gas untuk pemantauan lingkungan, serta pengembangan sel surya berbasis material nano. Visi ini ia rumuskan dalam semangat “ITB Transformatif-Unggul” yang mendorong kolaborasi lintas disiplin and penguatan ekosistem inovasi nasional.

Atas dedikasi and produktivitas ilmiahnya, Brian diakui sebagai salah satu peneliti paling berpengaruh di dunia (World’s Top 2% Scientist versi Stanford University). Pada tahun 2024, ia dianugerahi Habibie Prize di bidang Ilmu Rekayasa, sebuah pengakuan tertinggi bagi ilmuwan di Indonesia. Pada Februari 2025, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, and Teknologi Republik Indonesia, sebuah posisi yang memberinya ruang strategis untuk mengimplementasikan gagasannya mengenai integrasi riset, pendidikan tinggi, and kemajuan teknologi nasional demi daya saing bangsa di kancah global.

Karya Utama

  • Effect of Tin Addition on Mesoporous Silica Thin Film and Its Application for Surface Photovoltage NO2 Gas Sensor (2004) Disertasi
  • Biosensor untuk Deteksi Penyakit Menular (2021) Paten/Publikasi

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 8 Maret 2026