Fery Amsari

Padang, Sumatera Barat · 1980
Fery Amsari
Lahir 1980
Padang, Sumatera Barat
Afiliasi Universitas Andalas (FH UNAND), PUSaKO
Pendidikan
  • Universitas Andalas (Sarjana Hukum & Magister Hukum)
  • William & Mary Law School, AS (LL.M.)
Bidang hukum tata negara, sosiologi hukum, kebijakan publik

Pokok Pikiran & Kontribusi

Integritas proses legislasi; perlawanan terhadap korupsi legislatif; perlindungan terhadap kedaulatan rakyat dalam pemilu; hukum sebagai alat keadilan, bukan alat kekuasaan.

Fery Amsari adalah seorang akademisi dan aktivis hukum tata negara dari Universitas Andalas yang dikenal karena keteguhannya dalam membela nilai-nilai konstitusionalisme di Indonesia. Sebagai Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO), ia memposisikan lembaganya sebagai benteng pertahanan bagi nalar hukum yang sehat di tengah berbagai upaya pelemahan demokrasi. Fery adalah sosok intelektual yang percaya bahwa kejujuran akademik harus selaras dengan keberanian untuk menyuarakan kebenaran di ruang publik.

Fokus pemikirannya banyak dicurahkan pada pengawasan terhadap proses pembentukan undang-undang dan penyelenggaraan pemilu yang adil. Ia sangat kritis terhadap fenomena “korupsi legislatif” dan praktik-praktik politik yang mencoba mengakali aturan hukum demi kepentingan jangka pendek. Bagi Fery, konstitusi adalah “kontrak sosial” yang suci yang tidak boleh dikhianati oleh para penyelenggara negara. Ia sering kali menjadi “penerjemah” hukum bagi masyarakat sipil, menjelaskan bagaimana sebuah kebijakan yang tampak teknis sebenarnya memiliki dampak besar bagi masa depan demokrasi dan hak asasi manusia.

Keberanian Fery dalam melontarkan kritik sering kali membuatnya harus berhadapan dengan tekanan politik, namun ia tetap tegak berdiri pada dalil-dalil hukum yang ia yakini benar. Perannya yang menonjol dalam film dokumenter Dirty Vote menjadi bukti nyata dari komitmennya untuk melakukan pendidikan politik massa secara jujur dan berisiko. Ia mengajarkan bahwa seorang dosen hukum tidak boleh hanya mengajar di kelas, tetapi juga harus mendidik publik agar tidak mudah dibodohi oleh retorika-retorika hukum yang manipulatif.

Hingga kini, Fery Amsari tetap menjadi salah satu intelektual publik paling vokal yang berasal dari luar Jakarta, membuktikan bahwa pusat pemikiran kritis bisa tumbuh subur di mana saja di Nusantara. Warisannya adalah sebuah semangat pantang menyerah dalam mengawal janji-janji kemerdekaan yang tertuang dalam konstitusi. Ia adalah suara hati nurani dari Sumatera yang terus beresonansi ke seluruh penjuru negeri, mengingatkan kita semua bahwa hukum adalah rumah bagi keadilan, bukan jeruji bagi kebenaran.

Karya Utama

  • Perubahan UUD 1945: Tinjauan dari Perspektif Hukum Tata Negara () Buku
  • "Dirty Vote" (Narasumber Utama) (2024) Film Dokumenter

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026