Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto

Nganjuk, Jawa Timur · 1965
Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto
Lahir 1965
Nganjuk, Jawa Timur
Afiliasi STFT Widya Sasana Malang, Universitas Airlangga, Asosiasi Filsuf Katolik Indonesia
Pendidikan
  • STFT Widya Sasana, Malang
  • Doktor (Ph.D) Filsafat, Universitas Gregoriana, Roma, Italia
Bidang filsafat, etika, politik

Pokok Pikiran & Kontribusi

Merumuskan 'Filsafat Relasionalitas' berbasis fenomenologi untuk membedah etika perjumpaan dengan 'Liyan' (orang lain) dalam konteks keberagaman Indonesia dan era digital.

Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto, C.M., yang lebih dikenal sebagai Armada Riyanto, adalah seorang filsuf, akademisi, dan imam Katolik yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan filsafat kontemporer di Indonesia. Sebagai pakar fenomenologi lulusan Roma, ia berhasil membawa tradisi intelektual Eropa ke dalam dialog yang segar dengan realitas sosiopolitik dan keberagaman budaya di tanah air. Melalui kiprahnya sebagai Guru Besar di STFT Widya Sasana dan pengajar di berbagai universitas negeri, ia dikenal sebagai sosok yang mampu mensistematisasikan pengalaman keseharian manusia menjadi refleksi filosofis yang mendalam dan relevan.

Inti kontribusi intelektual Armada Riyanto adalah konsep “Filsafat Relasionalitas”. Melalui pendekatan fenomenologis, ia menegaskan bahwa eksistensi manusia tidak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan “Liyan” (orang lain). Baginya, identitas “Aku” tidak berdiri sendiri, melainkan didefinisikan oleh kualitas relasi yang dibangun. Pemikiran ini ia terapkan secara luas untuk membedah berbagai persoalan kontemporer, mulai dari akar terorisme hingga etika berkomunikasi di media sosial. Ia berargumen bahwa di era digital, kehadiran orang lain tetap menuntut tanggung jawab moral yang nyata, di mana perjumpaan virtual tidak boleh menghilangkan martabat kemanusiaan.

Selain relasionalitas, Armada Riyanto juga aktif menggerakkan dialog antaragama sebagai sebuah “perjumpaan eksistensial”. Ia memandang perbedaan keyakinan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk saling memperkaya melalui keterbukaan hati. Melalui karya-karyanya yang sangat produktif seperti buku Relasionalitas, ia menawarkan landasan etika bagi masyarakat majemuk Indonesia untuk hidup berdampingan secara harmonis. Warisan intelektualnya memberikan peta jalan bagi pengembangan humanisme yang inklusif, menjadikannya salah satu pemikir moral paling penting dalam menjawab tantangan disintegrasi sosial dan krisis etika di Indonesia modern.

Karya Utama

  • Relasionalitas: Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen (2018) Buku
  • Aku dan Liyan (2011) Buku
  • Menjadi Mencintai: Berfilsafat Teologi Sehari-hari (2013) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026