Goenawan Mohamad

Batang, Jawa Tengah · 1941
Goenawan Mohamad
Lahir 1941
Batang, Jawa Tengah
Afiliasi Majalah Tempo, Komunitas Salihara, Manifes Kebudayaan
Pendidikan
  • Universitas Indonesia (Psikologi)
  • College d'Europe, Belgia
Bidang jurnalisme, sastra, filsafat, seni rupa

Pokok Pikiran & Kontribusi

Catatan Pinggir sebagai refleksi filosofis atas peristiwa; kebebasan sebagai pra-syarat martabat manusia; kritik terhadap ideologi tertutup; estetika sebagai bentuk perlawanan.

Goenawan Mohamad (GM) adalah raksasa k intelektual kontemporer Indonesia yang melalui pena dan Majalah Tempo-nya telah membentuk cara berpikir satu generasi tentang kebebasan, demokrasi, dan estetika. Sebagai esais paling produktif di Asia Tenggara, kolom “Catatan Pinggir”-nya telah menjadi institusi tersendiri—sebuah ruang di mana peristiwa harian ditarik ke dalam diskursus filsafat yang mendalam, puitis, dan sering kali meragukan kepastian yang kaku. GM adalah seorang master dalam menggunakan metafora untuk membedah wajah kekuasaan.

Pokok pemikiran GM berpusat pada pembelaan terhadap “Kebebasan”. Ia adalah salah satu penandatangan Manifes Kebudayaan pada tahun 1963, sebuah pernyataan sikap yang menolak hegemoni politik dalam seni dan sastra. Baginya, kebebasan berekspresi bukanlah sekadar kemewahan intelektual, melainkan kebutuhan asasi agar manusia tidak menjadi sekadar instrumen kekuasaan. Melalui Tempo, ia membangun standar jurnalisme yang kredibel, skeptis, namun tetap memiliki empati terhadap kemanusiaan, bahkan ketika harus berhadapan dengan sensor dan pembredelan rezim.

Filosofi hidupnya sangat dipengaruhi oleh pemikiran kontemporer Barat seperti Derrida atau Heidegger, namun ia meramunya dengan kearifan lokal seperti pewayangan Jawa secara sangat cair. Ia sering kali menekankan bahwa kebenaran tidak pernah tunggal dan mutlak; ia selalu berada di “pinggir”, dalam sela-sela yang sering kali terabaikan. GM mengajak pembacanya untuk tidak terjebak dalam fanatisme ideologi tertutup yang cenderung melahirkan kekerasan. Baginya, tugas seorang intelektual adalah untuk terus menerus meragukan dan bertanya.

Di usia senjanya, energi kreatif GM tetap meluap melalui pendirian Komunitas Salihara—sebuah pusat kesenian yang menjadi oase bagi eksperimentasi seni dan diskusi intelektual yang bebas. Meskipun sering kali dituduh sebagai sosok liberal, kontribusinya dalam menjaga nalar sehat bangsa di tengah krisis otoritarianisme adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Warisan GM adalah sebuah keberanian untuk tetap puitis di tengah kebisingan politik, dan sebuah keyakinan bahwa kata-kata, jika dirajut dengan integritas, memiliki kekuatan untuk menjaga nyala api peradaban.

Karya Utama

  • "Catatan Pinggir" (Seri 1-...) (1976-Sekarang) Kumpulan Esai
  • Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972) Esai Sastra
  • Sidarta (2006) Lakon/Drama

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026