Haidar Bagir
| Lahir | 1957 Surakarta, Jawa Tengah |
| Afiliasi | Mizan Group, Yasmin Foundation, Lazuardi Hayati |
| Pendidikan |
|
| Bidang | filsafat Islam, tasawuf, pendidikan, filantropi |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Islam Cinta dan Islam Rahmah; tasawuf positif sebagai spiritualisme modern; integrasi antara filsafat Islam (Mulla Sadra) dan Barat (Heidegger); pendidikan karakter berbasis welas asih.
Haidar Bagir adalah seorang intelektual-entrepreneur yang memiliki peran sentral dalam mendiseminasikan gagasan Islam moderat dan progresif di Indonesia. Sebagai pendiri Mizan Group, ia berhasil menciptakan kanal literatur yang mempertemukan kedalaman intelektual Islam klasik dengan dinamika modernitas. Haidar bukan hanya seorang eksekutif sukses, tetapi juga seorang filsuf yang secara konsisten menyuarakan wajah Islam yang inklusif, estetis, dan penuh kasih sayang.
Pokok pemikiran Haidar Bagir berpusat pada apa yang ia sebut sebagai “Islam Cinta” atau “Islam Rahmah”. Ia meyakini bahwa esensi dari seluruh ajaran agama adalah cinta—baik cinta kepada Pencipta maupun kasih sayang kepada sesama makhluk. Di tengah arus keberagamaan yang seringkali terjebak pada formalisme hukum yang kaku atau bahkan kekerasan, Haidar menawarkan alternatif melalui tasawuf positif. Bagi Haidar, tasawuf bukanlah jalan pelarian dari dunia, melainkan energi spiritual yang mendorong manusia untuk aktif berbuat kebaikan, bersikap toleran, dan bahagia.
Kapasitas akademisnya terlihat dalam kemampuannya menjembatani filsafat Timur dan Barat. Disertasi doktornya di Universitas Indonesia melakukan studi komparatif antara ontologi Mulla Sadra dan Martin Heidegger, menunjukkan kedalamannya dalam memahami isu-isu eksistensial yang fundamental. Haidar berupaya menyajikan filsafat Islam tidak sebagai museum pemikiran masa lalu, tetapi sebagai alat analisis yang relevan untuk menjawab problem kemanusiaan kontemporer, seperti krisis moral, kesenjangan sosial, dan kerusakan lingkungan.
Selain menulis, Haidar aktif dalam berbagai gerakan filantropi dan inovasi pendidikan melalui Yayasan Yasmin dan sekolah-sekolah Lazuardi. Ia percaya bahwa transformasi masyarakat Indonesia harus dimulai dari pendidikan yang tidak hanya mengasah kecerdasan otak, tetapi juga kepekaan hati (intelligence of the heart). Melalui karyanya yang populer seperti Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan, ia terus menginspirasi generasi baru untuk memahami Islam sebagai pesan universal tentang kedamaian, menjadikannya salah satu figur intelektual paling berpengaruh dalam menjaga harmoni kebinekaan di Indonesia.
Karya Utama
- Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan (2012) Buku
- Mengenal Filsafat Islam (2002) Buku
- Belajar Hidup dari Rumi (2015) Buku
- Buku Saku Tasawuf (2000) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim