Haji Misbach

Kauman, Surakarta, Jawa Tengah · 1876 – 1926
Haji Misbach
Lahir 1876
Kauman, Surakarta, Jawa Tengah
Wafat 1926
Afiliasi Sarekat Islam (SI Merah), ISDV (PKI), Inlandsche Journalisten Bond
Pendidikan
  • Pesantren
  • Sekolah Bumiputera (Ongko Loro), Surakarta
Bidang politik, Islam sosialisme, jurnalistik

Pokok Pikiran & Kontribusi

Integrasi Islam dan Komunisme sebagai alat pembebasan (Haji Revolusioner); perlawanan terhadap kapitalisme/penjajahan sebagai kewajiban religius; kritik tajam terhadap kemunafikan beragama; Islam Bergerak.

Haji Mohamad Misbach, yang sering dijuluki sebagai “Haji Merah” atau “Haji Revolusioner”, adalah salah satu figur paling unik dan berani dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Berasal dari lingkungan pedagang batik kaya di Kauman, Solo, ia menggunakan seluruh hartanya dan pena tajamnya untuk melawan penindasan kolonial Belanda. Misbach adalah jembatan intelektual antara militansi Islam dan radikalisme komunis pada awal abad ke-20.

Gagasan sentral Misbach adalah sintesis radikal antara Islam dan komunisme. Baginya, Islam adalah agama pembebasan yang secara inheren menolak segala bentuk perbudakan dan penghisapan manusia atas manusia. Ia berargumen bahwa seorang Muslim sejati tidak mungkin setuju dengan kapitalisme, karena sistem tersebut bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Al-Qur’an. Visi “Islam-Komunisme” miliknya bukanlah sebuah pertentangan ideologis, melainkan satu tarikan napas dalam perjuangan emansipasi rakyat jelata (kaum kromo) melawan penjajah.

Melalui media massa yang ia kelola, seperti Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, Misbach menyebarkan virus perlawanan ke seluruh Jawa. Tulisannya dikenal lugas, pedas, dan tanpa ampun terhadap siapa pun yang dianggapnya menjilat Belanda atau melakukan “kemunafikan beragama”. Ia mengkritik keras para ulama atau tokoh organisasi yang hanyut dalam formalisme ibadah namun diam seribu bahasa saat melihat rakyat menderita. Kata-katanya, “Islam yang diam saat melihat ketidakadilan bukanlah Islam yang dibawa Nabi,” menjadi motor penggerak bagi ribuan buruh dan petani untuk bergabung dalam gerakan pemogokan.

Akibat keberaniannya yang tanpa kompromi, Misbach berulang kali dipenjara dan akhirnya dibuang oleh Belanda ke Manokwari, Papua, hingga wafat di sana. Meskipun namanya sempat “dihilangkan” dari narasi sejarah selama era Orde Baru karena keterkaitannya dengan komunisme, sosok Haji Misbach tetap menjadi rujukan penting bagi siapa pun yang ingin memahami akar teologi pembebasan di Indonesia. Ia adalah simbol abadi dari iman yang tidak sekadar berhenti di sajadah, tetapi bergerak dinamis di tengah gelanggang perjuangan rakyat.

Karya Utama

  • "Medan Moeslimin" (Surat Kabar) (1915) Jurnalistik
  • "Islam Bergerak" (Surat Kabar) (1917) Jurnalistik
  • Islam dan Komunisme (1925) Artikel/Esai
  • Semprong Wasiat (1923) Pamflet/Kritik

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026