Hamid Fahmy Zarkasyi

Gonto, Ponorogo, Jawa Timur · 1958
Hamid Fahmy Zarkasyi
Lahir 1958
Gonto, Ponorogo, Jawa Timur
Afiliasi Universitas Darussalam Gontor, INSISTS, MIUMI
Pendidikan
  • Pondok Modern Darussalam Gontor/ISID (S1, 1982)
  • University of the Punjab, Pakistan (M.A.Ed., 1986)
  • University of Birmingham, Inggris (M.Phil., 1998)
  • ISTAC-IIUM, Malaysia (Doktor Filsafat Islam, 2006)
Bidang teologi Islam, filsafat Islam, pendidikan, Islamisasi Ilmu

Pokok Pikiran & Kontribusi

Islamisasi Ilmu Pengetahuan sebagai rekonstruksi epistemologi; Worldview Islam (Islamic Worldview) sebagai fondasi nalar; kritik terhadap sekularisme, pengaruh Westernisasi, dan liberalisme pemikiran Islam.

Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi adalah seorang intelektual Muslim garda depan yang dikenal sebagai pendekar “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” di Indonesia. Sebagai putra salah satu pendiri Pondok Modern Gontor (K.H. Imam Zarkasyi), ia membawa spirit modernisme Gontor ke dalam diskursus filsafat dan teologi yang lebih mendalam. Melalui Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), ia memimpin gerakan kritis terhadap arus pemikiran Barat yang dianggapnya merusak tatanan nilai Islam.

Pokok pemikiran Hamid Fahmy berpusat pada konsep Islamic Worldview (Pandangan Hidup Islam). Ia berargumen bahwa sains dan ilmu pengetahuan tidak pernah bersifat netral; semuanya berpijak pada asumsi metafisika dan pandangan dunia sang ilmuwan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kembali struktur pengetahuan Muslim yang berdasar pada wahyu, akal yang terbimbing, dan tradisi intelektual Islam yang kokoh. Baginya, krisis yang dialami umat Islam hari ini sebenarnya adalah krisis ilmu pengetahuan (loss of adab) yang berujung pada kekacauan kepemimpinan.

Ia adalah kritikus vokal terhadap apa yang disebut sebagai liberalisasi pemikiran Islam dan sekularisme. Dalam karyanya Misykat, ia membedah bagaimana terminologi dan konsep Barat (seperti hermeneutika kritis atau relativisme kebenaran) seringkali dipaksakan masuk ke dalam studi Islam tanpa filter yang memadai. Ia mengajak kaum intelektual Muslim untuk “mengislamkan nalar” terlebih dahulu sebelum berinteraksi dengan pemikiran asing, agar tidak menjadi korban hegemoni epistemologi Barat yang materialistik.

Sebagai Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, ia secara praktis menerapkan kurikulum yang mengintegrasikan ilmu umum dan agama dalam satu tarikan napas. Ia percaya bahwa seorang ilmuwan Muslim masa depan tidak boleh terbelah jiwanya antara profesionalisme dan keimanan. Kontribusinya dalam memperkuat benteng intelektual Islam tradisional-modern menjadikannya figur kunci dalam upaya membangkitkan kembali martabat peradaban Islam melalui jalur pendidikan dan pemurnian akidah intelektual.

Karya Utama

  • Misykat: Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi (2012) Buku
  • Minhaj: Berislam dari Ritual hingga Intelektual (2020) Buku
  • Kausalitas antara Hukum Alam dan Tuhan (2018) Buku (Kajian Al-Ghazali)
  • Liberalisasi Pemikiran Islam (2008) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026