Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)

Tanah Sirah, Agam, Sumatera Barat · 1908 – 1981
Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)
Lahir 1908
Tanah Sirah, Agam, Sumatera Barat
Wafat 1981
Afiliasi Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Masyumi
Pendidikan
  • Pelatihan di Sumatera Thawalib, Padang Panjang
  • Belajar mandiri (Otodidak) di Mekkah dan perpustakaan-perpustakaan besar
Bidang tafsir Al-Qur'an, sastra, filsafat, tasawuf

Pokok Pikiran & Kontribusi

Tasawuf Modern; integrasi Islam, sastra, dan budaya; kebebasan dan martabat manusia; pembaruan Islam melalui pendekatan etika skriptural; keadilan sosial.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lebih dikenal dengan nama pena Hamka, adalah raksasa intelektual Indonesia yang langka—seorang ulama besar, filsuf, sekaligus sastrawan terkemuka. Sebagai putra dari reformis Islam Minangkabau (Haji Rasul), Hamka mewarisi semangat pembaruan namun membungkusnya dengan kelembutan sastra dan kedalaman rasa. Ia adalah sosok otodidak yang mampu menguasai berbagai bahasa dan disiplin ilmu, menjadikannya salah satu figur paling dicintai dalam sejarah Islam modern di Nusantara.

Kontribusi intelektual terpentingnya adalah konsep “Tasawuf Modern”. Dalam buku terkenalnya dengan judul yang sama, Hamka mereformasi pandangan tentang tasawuf yang selama ini dianggap sebagai pelarian dari dunia (asketisme ekstrem). Ia mengajarkan bahwa tasawuf sejati justru harus melahirkan individu yang produktif, berani, dan giat bekerja di dunia demi mencari ridha Allah. Baginya, kesalehan spiritual harus berbanding lurus dengan kemajuan sosial dan keberanian membela kebenaran.

Mahakaryanya, Tafsir al-Azhar, ditulis sebagian besar saat ia mendekam di penjara pada masa Orde Lama karena alasan politik. Tafsir 30 juz ini unik karena menggunakan bahasa yang indah, puitis, dan sangat khas Indonesia. Hamka berhasil menghubungkan pesan-pesan abadi Al-Qur’an dengan realitas sosial, budaya, dan sejarah bangsa—menjadikannya sebagai jembatan antara teks suci dan konteks lokal yang sangat efektif. Melalui novel-novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, ia juga mengkritik praktik-praktik adat yang kaku dan tidak sesuai dengan spirit kemanusiaan Islam.

Sebagai Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Hamka menunjukkan integritas moral yang tak tergoyahkan. Ia lebih memilih mengundurkan diri daripada harus menarik fatwa yang ia yakini benar namun tidak disukai oleh kekuasaan. Warisan Buya Hamka adalah sebuah teladan tentang bagaimana menjadi Muslim yang taat sekaligus cendekiawan yang cerdas dan sastrawan yang peka—sebuah perpaduan harmoni antara iman, ilmu, dan amal yang terus menginspirasi jutaan orang hingga hari ini.

Karya Utama

  • Tafsir al-Azhar (1967) Kitab Tafsir (30 Juz)
  • Tasawuf Modern (1939) Buku
  • Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1938) Novel
  • Falsafah Hidup (1940) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026