Hardjoso Prodjopangarso

Klaten, Jawa Tengah · 1923 – 2013
Hardjoso Prodjopangarso
Lahir 1923
Klaten, Jawa Tengah
Wafat 2013
Afiliasi Universitas Gadjah Mada (UGM)
Pendidikan
  • Sekolah Tinggi Teknik Yogyakarta (Insinyur, 1956)
Bidang Teknik Sipil, Teknik Pengairan (Irigasi), Teknologi Tepat Guna

Pokok Pikiran & Kontribusi

Pengembangan Teknologi Tradisional (Tektras) untuk kedaulatan air; teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal; visi pengelolaan air minum dan sanitasi lingkungan masyarakat daerah sulit; integrasi kecerdasan nenek moyang dalam teknik sipil modern.

Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso adalah sosok legendaris di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), tidak hanya karena ia tercatat sebagai pemilik Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 001, tetapi juga karena dedikasi tanpa batasnya pada teknologi rakyat. Sebagai guru besar di Fakultas Teknik, ia dikenal sebagai insinyur yang tidak hanya berkutat di laboratorium, melainkan langsung turun ke rawa-rawa dan pelosok desa untuk memecahkan masalah nyata. Ia memiliki keyakinan kuat bahwa teknologi sipil haruslah “tepat guna” dan bisa dijangkau oleh masyarakat kelas bawah.

Pokok pemikiran Prof. Hardjoso berakar pada konsep Teknologi Tradisional atau yang ia sebut sebagai “Tektras”. Ia meyakini bahwa masyarakat tradisional Indonesia memiliki kearifan luar biasa dalam berinteraksi dengan alam, seperti cara mengelola irigasi dan lahan pasang surut. Baginya, tugas seorang insinyur modern adalah mempelajari kecerdasan nenek moyang tersebut dan memperkuatnya dengan sains untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Ia sangat visioner dalam melihat masalah ketersediaan air bersih dan sanitasi sebagai tantangan masa depan bangsa sejak tahun 1970-an.

Warisan nyatanya tersebar dalam berbagai inovasi yang sangat aplikatif bagi masyarakat di lingkungan ekstrem. Salah satu penemuannya yang paling terkenal adalah Tripikon-S, sebuah sistem tangki septik yang dirancang khusus untuk daerah rawa dan pasang surut agar limbah tidak mencemari air tanah. Ia juga menciptakan berbagai alat pemurni air alami tanpa kimia (seperti rangkaian Nyi Bunga Sihir) dan stasiun cuaca sederhana bernama Jumantara. Dedikasinya pada rakyat kecil sangat kuat, hingga ia memilih pensiun dini pada usia 56 tahun agar bisa lebih fokus mengembangkan teknologi tepat guna di lapangan.

Kisah hidup Prof. Hardjoso adalah teladan tentang kesederhanaan dan keberpihakan pada kaum marjinal. Ia membuktikan bahwa gelar profesor dan keahlian teknik sipil tingkat tinggi bisa diarahkan sepenuhnya untuk menjawab kebutuhan dasar manusia: air bersih, lingkungan sehat, dan kemandirian teknologi. Di kampus UGM, ia mendirikan Laboratorium Lapangan Kawasan Teknologi Tradisional (Tektras) sebagai tempat riset dan edukasi yang menghubungkan mahasiswa dengan realitas sosial. Ia adalah seorang ilmuwan kemanusiaan yang mengajarkan bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang melayani kehidupan.

Karya Utama

  • Tripikon-S (Tangki Septik Rawa) (1989) Penemuan/Inovasi
  • Subromarto (Sistem Pembakaran Sampah) (1990) Penemuan/Inovasi
  • Jumantara (Stasiun Cuaca Skala Kecil) (2004) Penemuan/Inovasi

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 8 Maret 2026