Harun Nasution

Pematangsiantar, Sumatera Utara · 1919 – 1998
Harun Nasution
Lahir 1919
Pematangsiantar, Sumatera Utara
Wafat 1998
Afiliasi IAIN Syarif Hidayatullah, Kementerian Luar Negeri
Pendidikan
  • Moderne Islamietische Kweekschool, Bukittinggi
  • Universitas Al-Azhar, Kairo (Sarjana Muda, 1940)
  • American University of Cairo (Sarjana Muda, 1952)
  • McGill University, Kanada (M.A., 1965; Doktor Filsafat, 1968)
Bidang teologi Islam, filsafat, pendidikan Islam

Pokok Pikiran & Kontribusi

Rekonstruksi Islam Rasional; pembaruan teologi dari fatalistik (Asy'ariyah) menuju teologi rasional (Neo-Mu'tazilah); integrasi akal dan wahyu; Islam sebagai peradaban yang luas melampaui fikih.

Harun Nasution adalah arsitek utama perubahan paradigma pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah (kini UIN Jakarta) selama lebih dari satu dekade, ia mentransformasi lembaga pendidikan tersebut dari sekolah agama yang bersifat doktrinal menjadi pusat studi Islam yang kritis, rasional, dan multidisipliner. Ia percaya bahwa kejumudan umat Islam Indonesia berakar pada cara berpikir fatalistik yang harus dibongkar dengan nalar rasional.

Kontribusi intelektual terbesarnya adalah pengenalan kembali teologi Muktazilah—yang ia sebut sebagai “Neo-Mu’tazilah”—ke dalam kurikulum pesantren dan perguruan tinggi Islam. Harun berpendapat bahwa kemajuan Barat berakar pada penghargaan tinggi terhadap akal, sementara umat Islam tertinggal karena terlalu terpaku pada teologi Asy’ariyah yang cenderung mengecilkan peran rasio. Melalui bukunya Akal dan Wahyu dalam Islam, ia menegaskan bahwa wahyu tidak pernah bertentangan dengan akal yang sehat; justru akal diperlukan untuk memahami maksud terdalam dari wahyu tersebut.

Bagi Harun, Islam adalah peradaban yang luas, mencakup filsafat, tasawuf, sejarah, dan sains, bukan sekadar urusan fikih (hukum) atau ritual semata. Pandangan ini ia tuangkan dalam buku teks legendaris Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, yang sempat menuai kecaman dari kelompok konservatif namun akhirnya menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa Islam di seluruh Indonesia. Ia ingin menghidupkan kembali “zaman keemasan Islam” di mana kebebasan berpikir menjadi pilar utama kemajuan ilmu pengetahuan.

Warisan Harun Nasution tercermin pada generasi intelektual “IAIN Jakarta” yang kritis dan terbuka terhadap modernitas. Ia berhasil meletakkan fondasi bagi apa yang disebut sebagai “Islam Rasional” di Indonesia—sebuah cara beragama yang tidak hanya didorong oleh kepatuhan buta, tetapi oleh pemahaman yang logis dan ilmiah. Meski pemikirannya tetap menjadi subjek perdebatan antara kelompok rasionalis dan tradisionalis, tidak diragukan lagi bahwa Harun telah membuka pintu nalar yang mengubah wajah pemikiran Islam di Nusantara.

Karya Utama

  • Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya (1974) Buku
  • Akal dan Wahyu dalam Islam (1981) Buku
  • Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan (1972) Buku
  • Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (1975) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026