Hasyim Asy’ari
| Lahir | 1871 Jombang, Jawa Timur |
| Wafat | 1947 |
| Afiliasi | Nahdlatul Ulama (Pendiri/Rais Akbar), Pondok Pesantren Tebuireng |
| Pendidikan |
|
| Bidang | teologi Islam, pendidikan pesantren, hukum Islam (Fiqih) |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Ahlussunnah wal Jama'ah (Islam Tradisionalis yang kokoh); Hubbul Wathan Minal Iman (Cinta tanah air adalah bagian dari iman); Resolusi Jihad; persatuan umat melalui mazhab; pelestarian tradisi pesantren.
K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, yang dijuluki Hadratussyaikh (Mahaguru), adalah pilar utama Islam tradisionalis di Indonesia dan tokoh sentral dalam sejarah kemerdekaan nasional. Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), ia merupakan benteng bagi pelestarian ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang berakar pada kearifan mazhab dan tradisi pesantren. Namun, kebesaran Hasyim Asy’ari bukan hanya terletak pada kedalaman ilmu agamanya, melainkan pada kemampuannya menyatukan semangat keagamaan dengan nasionalisme Indonesia secara harmonis.
Pokok pemikirannya yang paling fenomenal bagi bangsa Indonesia adalah fatwa “Hubbul Wathan Minal Iman” (Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman). Melalui gagasan ini, ia menghapus dikotomi antara menjadi Muslim yang taat dan menjadi Nasionalis yang setia. Puncak dari peran heroiknya adalah ketika ia mengeluarkan “Resolusi Jihad” pada 22 Oktober 1945, yang mewajibkan umat Islam untuk melawan tentara sekutu yang ingin menjajah kembali. Tanpa komando moral dari Tebuireng ini, semangat perlawanan rakyat di Surabaya mungkin tidak akan sedahsyat sejarah yang kita kenal.
Di bidang pendidikan, karyanya Adabul ‘Alim wal Muta’allim tetap menjadi rujukan standar etika di ribuan pesantren hingga kini. Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan setinggi apa pun tidak akan berkah jika tidak disertai dengan akhlak yang mulia dan penghormatan kepada guru. Hasyim Asy’ari membangun identitas Muslim Indonesia yang moderat (tawassuth), seimbang (tawazun), dan adil (i’tidal). Ia mengajarkan bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan pondasi yang memperkuat karakter bangsa menghadapi gempuran perubahan zaman.
Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari adalah sosok pemersatu yang sangat dihormati oleh semua kalangan, termasuk oleh kelompok modernis yang sering berseberangan pandangan fiqih dengannya. Kepergiannya meninggalkan warisan abadi berupa organisasi massa Islam terbesar di dunia (NU) yang hingga kini menjadi penjaga keutuhan NKRI. Ia adalah bukti nyata bahwa seorang kiai kampung bisa memiliki visi peradaban global dan menjadi jangkar bagi keselamatan sebuah bangsa yang baru lahir dari rahim penjajahan.
Karya Utama
- Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah () Kitab Teologi
- "Adabul 'Alim wal Muta'allim" (Etika Guru dan Murid) () Kitab Pendidikan
- At-Tibyan: fi al-Nahyi 'an Muqatha'ah al-Arham wa al-Aqharib wa al-Ikhwan () Kitab Sosial/Persaudaraan
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim