H.B. Jassin

Gorontalo · 1917 – 2000
H.B. Jassin
Lahir 1917
Gorontalo
Wafat 2000
Afiliasi Balai Pustaka, Universitas Indonesia, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pendidikan
  • HBS Medan (1938)
  • Universitas Indonesia (S1 Sastra, 1957)
  • Yale University, AS (Sastra Bandingan, 1958-1959)
Bidang kritik sastra, dokumentasi sastra, penerjemahan

Pokok Pikiran & Kontribusi

Pentingnya dokumentasi sebagai memori kolektif bangsa; kritik sastra yang apresiatif dan edukatif; pembelaan terhadap kebebasan kreatif seniman; kejujuran intelektual dalam menilai karya.

Hans Bague Jassin, atau yang lebih dikenal sebagai H.B. Jassin, adalah sosok legendaris yang dijuluki “Paus Sastra Indonesia”. Julukan ini bukan tanpa alasan, karena selama lebih dari setengah abad, ia menjadi penjaga gawang sekaligus hakim paling berpengaruh bagi perkembangan sastra Indonesia modern. Melalui tangan dinginnya, ribuan karya penulis dari berbagai generasi dikurasi, dikritik, dan didokumentasikan dengan tingkat ketelitian yang luar biasa. Jassin adalah pilar yang memastikan bahwa sejarah intelektual Indonesia tidak hilang tertelan zaman.

Sumbangsih terbesarnya adalah pendirian Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin. Baginya, dokumentasi adalah “ingatan kolektif” yang menjadi fondasi bagi peradaban sebuah bangsa. Ia mengumpulkan guntingan koran, majalah, hingga surat-menyurat pribadi para sastrawan sejak era kolonial. Dalam hal kritik, Jassin memperkenalkan pendekatan yang tidak menghakimi secara kaku, melainkan mencoba memahami jiwa di balik sebuah karya. Ia adalah orang pertama yang membela Chairil Anwar dari tuduhan plagiarisme, menegaskan bahwa orisinalitas dalam seni adalah tentang reinterpretasi makna.

Kejujuran intelektual Jassin pernah diuji secara ekstrem ketika ia harus dipenjara karena menolak menyerahkan nama asli penulis cerpen “Langit Makin Mendung” yang dianggap menodai agama. Bagi Jassin, melindungi kerahasiaan penulis adalah bagian dari etika profesi jurnalis dan kritikus yang tidak bisa ditawar. Integritas ini menjadikannya figur moral yang sangat dihormati di dunia kebudayaan. Ia juga melakukan langkah berani dengan menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bentuk puitis agar lebih mudah dihayati secara estetis oleh pembaca Indonesia.

Hingga akhir hayatnya, H.B. Jassin tetap hidup dalam kesederhanaan di tengah tumpukan kertas dan buku. Warisannya adalah sebuah standar emas bagi dunia kritik dan pengarsipan di Indonesia. Ia mengajarkan bahwa mencintai bangsa dapat dilakukan melalui ketekunan merawat kata-kata. Tanpa dedikasi Jassin, wajah sastra Indonesia mungkin akan tampak buram dan tak tentu arah. Ia adalah bukti bahwa seorang “penjaga perpustakaan” bisa menjadi kompas bagi martabat budaya sebuah bangsa yang besar.

Karya Utama

  • Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (1954) Buku (Kritik)
  • Chairil Anwar Penyair Angkatan 45 (1956) Buku (Analisis)
  • "Al-Qur'anul Karim: Bacaan Mulia" (Terjemahan Puisi) (1978) Penerjemahan

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026