H.O.S. Tjokroaminoto
| Lahir | 1882 Ponorogo, Jawa Timur |
| Wafat | 1934 |
| Afiliasi | Sarekat Islam (SI), PSII |
| Pendidikan |
|
| Bidang | politik, Islam sosialisme, pendidikan |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat; Sosialisme Islam yang berakar pada hukum Tuhan; kemerdekaan sebagai kewajiban religius; Islam Bergerak.
Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto adalah raksasa dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia yang dijuluki sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota” oleh pemerintah kolonial. Sebagai pemimpin karismatik Sarekat Islam (SI), ia berhasil mengubah sebuah organisasi dagang menjadi organisasi massa nasional pertama yang memiliki jutaan anggota. Tjokroaminoto adalah “guru bangsa” yang rumahnya di Surabaya menjadi rumah persemaian bagi para pemimpin masa depan dengan ideologi yang beragam—mulai dari Soekarno (Nasionalis), Semaoen (Komunis), hingga Kartosoewirjo (Islam Politik).
Semboyan terkenalnya, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat,” merangkum visinya tentang manusia Indonesia yang ideal. Bagi Tjokroaminoto, perlawanan terhadap penjajah bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi harus didasari oleh kecerdasan intelektual, kemurnian iman, dan kecerdikan strategi politik. Ia meletakkan dasar bagi kesadaran nasional bahwa kemerdekaan (vrijheid) adalah hak kodrati yang diberikan Tuhan, dan perjuangan mencapainya adalah bentuk ibadah kolektif.
Tjokroaminoto adalah pemikir pertama di Nusantara yang secara sistematis merumuskan konsep “Sosialisme Islam”. Dalam karyanya yang monumental, Islam dan Sosialisme (1924), ia membantah anggapan bahwa sosialisme adalah produk Barat murni. Ia berargumen bahwa prinsip-prinsip keadilan sosial, kesetaraan (equalite), dan persaudaraan (fraternity) sudah inheren dalam ajaran Islam sejak masa Nabi Muhammad. Sosialisme Islam versinya menekankan penghapusan eksploitasi manusia atas manusia (exploitation de l’homme par l’homme) melalui kerangka moral teosentris yang berlandaskan hukum Allah.
Warisan Tjokroaminoto yang paling abadi adalah semangat “Islam Bergerak”—sebuah ajaran yang menuntut umat Islam untuk tidak diam melihat ketidakadilan. Melalui retorikanya yang menggugah, ia membangkitkan harga diri rakyat jelata (kaum kromo) untuk berani menatap mata para penguasa kolonial. Meskipun ia wafat sebelum proklamasi kemerdekaan, fondasi intelektual dan organisasional yang ia bangun menjadi pilar utama bagi berdirinya Republik Indonesia yang berdaulat dan berkeadilan sosial.
Karya Utama
- Islam dan Sosialisme (1924) Buku
- Tarich Agama Islam (1931) Buku
- Reglemen Umum Bagi Ummat Islam (1934) Buku
- Program Tandhim (1930) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim