Ki Ageng Suryomentaram
| Lahir | 1892 Yogyakarta (Keraton) |
| Wafat | 1962 |
| Afiliasi | Kawruh Begja, Front Pembebasan Irian Barat |
| Pendidikan |
|
| Bidang | psikologi kejiwaan, filsafat Jawa, etika |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Kawruh Begja (Ilmu Kebahagiaan); konsep 'Mulur-Mret' (Keinginan yang terus bertambah); membedah struktur 'Aku' (Kramadangsa); pentingnya pengamatan diri sendiri secara jujur untuk mencapai kedamaian batin.
Ki Ageng Suryomentaram adalah sosok filsuf orisinal dari tanah Jawa yang kisahnya sering disejajarkan dengan Pangeran Siddharta. Lahir sebagai putra ke-55 dari Sultan Hamengkubuwono VII dengan gelar Bendoro Pangeran Haryo Suryomentaram, ia secara radikal meninggalkan kehidupan mewah keraton setelah mengalami krisis eksistensial yang mendalam. Ia merasa tidak menemukan “manusia” di balik jubah pangerannya. Suryomentaram kemudian menanggalkan seluruh bangsawannya, melarikan diri ke pelosok sebagai petani kuli di Kroya, demi mencari hakikat kemanusiaan yang sejati.
Sumbangsih intelektual terbesarnya adalah Kawruh Begja (Ilmu Kebahagiaan), sebuah sistem psikoterapi dan filsafat hidup yang dibangun berdasarkan pengamatan empiris terhadap jiwanya sendiri. Ia memperkenalkan konsep Mulur-Mret, yaitu sifat keinginan manusia yang akan selalu bertambah (mulur) jika terpenuhi dan akan mengerut/susah (mret) jika gagal. Baginya, penderitaan manusia bukan disebabkan oleh faktor luar, melainkan karena kita terlalu mengidentikkan diri dengan jabatan, harta, atau nama baik (yang disebutnya sebagai Kramadangsa).
Suryomentaram mengajarkan metode “Mawas Diri”, yaitu kemampuan untuk melihat pikiran dan perasaan sendiri sebagai objek pengamatan yang netral. Dengan memahami pola keinginan yang naik-turun, seseorang dapat mencapai kondisi Tentrem, sebuah kedamaian yang stabil dan tidak bergantung pada kondisi lingkungan. Menariknya, meskipun ajarannya sangat “mistis” dalam arti kedalaman batin, namun ia menyampaikannya dengan logika yang sangat rasional, praktis, dan tanpa menggunakan jargon-jargon agama secara doktriner.
Meskipun memilih hidup sebagai rakyat jelata, ia tetap menaruh perhatian besar pada kemerdekaan bangsa. Selama pendudukan Jepang, ia aktif membidani lahirnya tentara PETA dan memberikan bimbingan spiritual bagi para pejuang. Warisannya adalah sebuah mazhab filsafat asli Nusantara yang sangat aplikatif untuk mengatasi kesehatan mental di era modern. Ki Ageng Suryomentaram telah membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan di puncak piramida kekuasaan, melainkan di dalam kedalaman kejujuran diri sendiri untuk menjadi “Manusia Tanpa Nama”.
Karya Utama
- Kawruh Begja () Kumpulan Ajaran
- Pikiran-pikiran Ki Ageng Suryomentaram () Buku (Koleksi Tulisan)
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim