Liem Koen Hian

Banjarmasin, Kalimantan Selatan · 1897 – 1952
Liem Koen Hian
Lahir 1897
Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Wafat 1952
Afiliasi Partai Tionghoa Indonesia (PTI), BPUPKI, Sin Tit Po
Pendidikan
  • Europesche Lagere School (ELS), Banjarmasin
Bidang politik, jurnalisme, nasionalisme

Pokok Pikiran & Kontribusi

Konsep 'Indonesierschap' (Kewarganegaraan Indonesia); integrasi etnis Tionghoa ke dalam bangsa Indonesia; nasionalisme berbasis tanah air (Hindia Belanda/Indonesia) bukan ras.

Liem Koen Hian adalah seorang jurnalis dan politikus revolusioner yang menjadi salah satu tokoh Tionghoa paling penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Di tengah perdebatan identitas pada masa kolonial, ia mengambil sikap radikal dengan menyatakan bahwa etnis Tionghoa peranakan adalah bagian integral dari bangsa Indonesia. Melalui surat kabar Sin Tit Po di Surabaya, ia secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan dan integrasi politik, menentang pandangan arus utama yang saat itu masih berorientasi pada Tiongkok atau Belanda.

Kontribusi filosofis-politiknya yang paling fundamental adalah konsep “Indonesierschap”. Liem berargumen bahwa status bangsa Indonesia tidak ditentukan oleh darah atau asal-usul ras, melainkan oleh tekad dan kesetiaan terhadap tanah air Indonesia. Ia percaya bahwa orang Tionghoa yang lahir, hidup, dan ingin berjuang di Indonesia harus dianggap dan menganggap diri mereka sebagai bangsa Indonesia. Pemikiran ini ia manifestasikan dengan mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada tahun 1932, sebagai tandingan terhadap organisasi Tionghoa lain yang cenderung eksklusif.

Sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Liem turut menyumbangkan pikiran dalam merumuskan dasar-dasar kewarganegaraan bagi negara yang akan lahir. Ia memperjuangkan hak-hak sipil bagi kelompok minoritas agar diakui secara penuh di bawah payung nasionalisme Indonesia. Namun, perjalanan hidupnya berakhir tragis setelah kemerdekaan; ia merasa kecewa dengan arah politik nasional yang cenderung diskriminatif, yang akhirnya membuatnya sempat melepas kewarganegaraan Indonesia di akhir masa hidupnya.

Meskipun wafat dalam kesunyian, warisan intelektual Liem Koen Hian tetap menjadi fondasi penting bagi diskursus kewarganegaraan inklusif di Indonesia. Ia adalah orang pertama yang secara terbuka merumuskan bahwa menjadi Indonesia adalah sebuah pilihan sadar dan komitmen politik, bukan sekadar warisan biologis. Sosoknya mengingatkan kita bahwa keberagaman etnis adalah penyusun utama dari mosaik kebangsaan, dan nasionalisme Indonesia harus bersifat terbuka bagi semua putra-putri yang mencintai tanah air ini.

Karya Utama

  • The Chinese in Indonesia (1947) Buku/Artikel
  • Indonesier of niet? (1932) Polemik/Artikel

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026