| Lahir | 1900 Tomohon, Sulawesi Utara |
| Wafat | 1981 |
| Afiliasi | PBB (Wakil Tetap RI Pertama), PDI (Indische Sociaal-Democratische Partij) |
| Pendidikan |
|
| Bidang | politik, sosiologi |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Merumuskan strategi 'Diplomasi Perjuangan' untuk menginternasionalisasi isu kemerdekaan Indonesia di PBB, serta memperjuangkan kesetaraan bangsa-bangsa Asia-Afrika.
Lambertus Nicodemus Palar, atau yang akrab disapa “Babe Palar”, adalah seorang diplomat ulung dan negarawan jenius yang memegang peran krusial dalam mengukuhkan kedaulatan Indonesia di panggung internasional. Sebagai representasi intelektual Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ia berhasil mengubah konflik antara Indonesia dan Belanda dari sekadar “urusan dalam negeri” kolonial menjadi perhatian perdamaian dunia. Pengalaman panjangnya dalam gerakan sosialis-demokrat di Belanda memberinya ketajaman analisis sosiopolitik untuk melakukan lobi-lobi strategis yang mematahkan propaganda penjajah di mata dunia.
Kontribusi intelektual utama Palar terletak pada rumusan “Diplomasi Perjuangan” yang bersifat pragmatis namun tetap berpegang teguh pada prinsip kemerdekaan penuh. Ia meyakini bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemenangan militer, melainkan oleh pengakuan hukum dan legitimasi internasional. Melalui kantor perwakilan RI di New York yang ia dirikan dengan segala keterbatasan pada 1947, ia membangun jaringan dukungan dari negara-negara Asia-Afrika dan negara besar lainnya. Puncaknya, ia memimpin delegasi Indonesia saat secara resmi diterima menjadi anggota ke-60 PBB pada 28 September 1950, sebuah pencapaian diplomatik yang membuktikan kematangan intelektual bangsa Indonesia.
Selain kiprahnya di PBB, Palar juga merupakan salah satu arsitek di balik penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955. Pemikirannya menekankan pentingnya solidaritas bangsa-bangsa yang baru merdeka untuk membentuk kekuatan alternatif di tengah polarisasi Perang Dingin. Sosoknya dihormati karena integritas moralnya yang tinggi—termasuk keberaniannya mengundurkan diri dari parlemen Belanda sebagai bentuk protes atas agresi militer terhadap bangsanya. Warisan pemikirannya memberikan landasan bagi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, menjadikannya salah satu pemikir strategis diplomasi terbesar dalam sejarah modern Indonesia.
Karya Utama
- Pidato Penerimaan Indonesia di PBB (Orasi) (1950) Esai
- Laporan Diplomatik New York (Kumpulan Laporan) (1947) Memoar
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim