Mohammad Natsir
| Lahir | 1908 Alahan Panjang, Sumatera Barat |
| Wafat | 1993 |
| Afiliasi | Partai Masyumi, Perdana Menteri RI ke-5, DDII |
| Pendidikan |
|
| Bidang | politik Islam, diplomasi, pendidikan |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Mosi Integral Natsir (Kembali ke NKRI); Islam sebagai dasar integral kehidupan dan negara; integrasi masjid, kampus, dan pesantren; politik sebagai dakwah; hubungan harmonis antara agama dan modernitas.
Mohammad Natsir adalah seorang negarawan ulung, ulama, sekaligus politikus paling berpengaruh dari garis Islam di masa awal kemerdekaan Indonesia. Sebagai pemimpin utama Partai Masyumi, ia dikenal karena integritas moralnya yang sangat tinggi dan gaya hidupnya yang sangat sederhana melampaui kedudukannya sebagai Perdana Menteri. Natsir adalah sosok yang membuktikan bahwa seorang Muslim yang taat dapat menjadi demokrat yang tangguh dan diplomat yang sangat dihormati oleh lawan-lawan politiknya.
Jasa sejarahnya yang paling fenomenal adalah “Mosi Integral Natsir” pada 3 April 1950. Melalui kepiawaian diplomasinya, ia berhasil meyakinkan negara-negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk kembali melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara sukarela. Tanpa Mosi Integral ini, mungkin Indonesia akan terjebak dalam fragmentasi politik permanen akibat politik adu domba Van Mook. Natsir adalah penyelamat NKRI di saat-saat paling kritis setelah penyerahan kedaulatan.
Pokok pemikirannya berpusat pada keyakinan bahwa Islam adalah sumber inspirasi yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa. Ia menolak pemisahan kaku antara agama dan negara, namun tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip konstitusionalisme. Natsir merumuskan tiga pilar kebangkitan umat: Masjid sebagai pusat spiritual, Pesantren sebagai pusat ilmu, dan Kampus sebagai pusat intelektual. Baginya, berpolitik adalah bagian dari ibadah dan dakwah untuk menciptakan keadilan sosial yang berbasis pada nilai-nilai ketuhanan.
Meskipun ia pernah mengalami masa sulit sebagai tahanan politik karena keterlibatannya dalam PRRI, Natsir tetap diakui sebagai otoritas intelektual Islam di dunia internasional. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Liga Muslim Dunia (Rabithah Alam Islamy). Kesederhanaannya yang melegenda—seperti jas yang bertambal dan menolak diberikan hadiah mobil dinas mewah—menjadi teladan etis yang sangat langka dalam sejarah politik Indonesia. Mohammad Natsir adalah bukti bahwa kata-kata yang lahir dari ketulusan dan kejujuran akan tetap dikenang sebagai warisan bangsa yang tak ternilai harganya.
Karya Utama
- Fiqhud Da’wah (1970) Buku (Teologi/Dakwah)
- Capita Selecta (1954) Kumpulan Tulisan Politik/Agama
- Mosi Integral Natsir (1950) Pidato/Dokumen Politik
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim