Mpu Tantular
| Lahir | |
| Afiliasi | Kerajaan Majapahit |
| Pendidikan |
|
| Bidang | sastra, filsafat agama, etika |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Bhinneka Tunggal Ika (Kesatuan dalam Keragaman); Sinkretisme Siwa-Buddha; toleransi beragama sebagai pilar stabilitas negara; kearifan moral melalui cerita kepahlawanan.
Mpu Tantular adalah seorang pujangga besar dari masa keemasan Kerajaan Majapahit yang melalui tulisannya telah memberikan sumbangan paling berharga bagi ideologi bangsa Indonesia modern. Hidup di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, ia dikenal sebagai penganut agama Buddha yang taat namun memiliki pandangan yang sangat terbuka terhadap ajaran Hindu Siwa. Tantular adalah arsitek filosofis dari apa yang kini kita kenal sebagai semangat toleransi dan keberagaman Nusantara.
Warisan intelektual terbesarnya tertuang dalam Kakawin Sutasoma. Dalam karya ini, Tantular menuliskan kalimat keramat: “Wanā hika dharma mangrwa, bhinnêka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa,” yang secara harfiah bermakna “Kebenaran itu tidak mendua, meski berbeda-beda namun tetap satu jua.” Kalimat ini ia gunakan untuk menjelaskan bahwa meski ajaran Siwa dan Buddha memiliki jalan yang berbeda, pada hakikatnya keduanya menuju pada Kebenaran yang sama. Gagasan ini bukan sekadar puitis, melainkan sebuah solusi cerdas untuk menjaga kesatuan sosial di tengah masyarakat Majapahit yang majemuk.
Melalui sosok pahlawan Sutasoma, Tantular juga mengajarkan tentang filosofi pengorbanan dan cinta kasih tanpa batas (ahimsa). Sutasoma digambarkan sebagai pangeran yang meninggalkan kemewahan istana untuk mencari pencerahan dan rela mengorbankan diri demi keselamatan makhluk lain. Visi moral Tantular menekankan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin atau ksatria bukan terletak pada kekerasan militer, melainkan pada keteguhan hati dan kemampuannya merangkul segala perbedaan dalam satu ikatan persaudaraan yang harmonis.
Mpu Tantular adalah bukti nyata bahwa tradisi pemikiran Nusantara telah mengenal konsep pluralisme sejak abad ke-14. Karyanya telah menembus batas zaman, melampaui keruntuhan Majapahit, dan akhirnya dipilih oleh para pendiri bangsa Indonesia sebagai semboyan negara, “Bhinneka Tunggal Ika”. Kehadirannya dalam sejarah pemikiran mengingatkan kita bahwa persatuan Indonesia bukan dibangun di atas keseragaman, melainkan di atas pengakuan yang tulus dan intelektual terhadap keragaman sebagai kekayaan yang satu.
Karya Utama
- Kakawin Sutasoma (Abad ke-14) Kakawin/Sastra Filosofis
- Kakawin Arjunawijaya (Abad ke-14) Kakawin
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim