Muhidin M. Dahlan

Donggala, Sulawesi Tengah · 1978
Muhidin M. Dahlan
Lahir 1978
Donggala, Sulawesi Tengah
Afiliasi Indonesia Buku (iBuku), Warung Arsip, Radio Buku
Pendidikan
  • IKIP Yogyakarta (Teknik Bangunan, Tidak Tamat)
  • IAIN Sunan Kalijaga (Sejarah Peradaban Islam, Tidak Tamat)
Bidang pengarsipan, jurnalisme sejarah, sastra, literasi

Pokok Pikiran & Kontribusi

Arsip sebagai fondasi memori bangsa; aktivisme literasi melalui pengumpulan kliping dan majalah lama; penulisan ulang sejarah yang jujur (Petite Histoire); ideologi 'Pramis' (semangat perjuangan Pramoedya).

Muhidin M. Dahlan, atau yang akrab disapa Gus Muh, adalah “penjaga gerbang memori” Indonesia masa kini. Ia adalah intelektual publik yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat potongan-potongan sejarah bangsa yang sering kali dibuang atau sengaja dihilangkan. Melalui Warung Arsip yang ia kelola di Yogyakarta, Muhidin telah mendigitalisasi jutaan lembar kliping koran dan majalah sejak era kolonial, menjadikannya sebagai oase informasi bagi para peneliti, wartawan, dan penulis yang ingin menemukan kembali kebenaran sejarah di balik narasi resmi penguasa.

Pemikiran utamanya berpusat pada urgensi arsip sebagai syarat mutlak pembangunan peradaban. Muhidin adalah “murid” spiritual yang paling tekun dalam meneruskan tradisi pengarsipan Pramoedya Ananta Toer dan H.B. Jassin. Baginya, bangsa yang amnesia terhadap sejarahnya sendiri akan selalu mudah dimanipulasi oleh kepentingan politik sesaat. Ia mempopulerkan metode penulisan sejarah yang berbasis pada detail-detail kecil—yang ia sebut sebagai kronik—untuk membongkar mekanisme kekuasaan yang bekerja dalam peristiwa besar. Karyanya yang mendetail tentang Kronik Penculikan Aktivis 1998 adalah bukti pengabdiannya dalam mendokumentasikan luka bangsa agar tidak pernah terlupakan.

Dahulu dikenal luas karena novelnya yang kontroversial Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, Muhidin kini lebih banyak bergerak sebagai kurator intelektual melalui media Radio Buku. Ia adalah sosok yang percaya bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan tindakan aktif mencari, mengumpulkan, dan menyebarkan kembali ilmu pengetahuan. Ia sangat gigih memperjuangkan kebebasan berpikir dan hak atas informasi. Ia tidak segan untuk mengangkat kembali tokoh-tokoh yang “dibuang” dari buku sejarah resmi (seperti Tirto Adhi Soerjo atau Lekra) guna menghadirkan wawasan yang lebih lengkap dan adil tentang jati diri keindonesiaan.

Hingga kini, Muhidin M. Dahlan tetap menjadi motor penggerak literasi yang tangguh di Yogyakarta. Warisannya adalah sebuah kesadaran kolektif baru tentang pentingnya menghargai secarik kertas tua sebagai dokumen suci sebuah bangsa. Ia mengajarkan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati; ia hanya butuh dirawat dengan telaten agar bisa bicara kembali kepada generasi masa depan. Gus Muh adalah bukti bahwa kerja sunyi di tengah tumpukan debu arsip bisa menjadi tindakan pemberontakan intelektual yang paling efektif melawan kebohongan zaman.

Karya Utama

  • Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (2003) Novel
  • Lekra Tak Membakar Buku (2008) Kajian Sejarah/Arsip
  • Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998 (2023) Buku (Arsip Sejarah)

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026