Musa Asy’arie

Pekajangan, Pekalongan, Jawa Tengah · 1951
Musa Asy’arie
Lahir 1951
Pekajangan, Pekalongan, Jawa Tengah
Afiliasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammadiyah
Pendidikan
  • Pondok Pesantren Tremas, Pacitan
  • IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (Doktor Filsafat, 1991)
  • The University of Chicago (di bawah bimbingan Fazlur Rahman)
Bidang filsafat Islam, etika ekonomi, kewirausahaan

Pokok Pikiran & Kontribusi

Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan; konsep manusia sebagai pembentuk kebudayaan; filsafat Islam sebagai 'sunnah Nabi dalam berpikir'; etika kewirausahaan (Entrepreneurship) berbasis religiusitas; rasional transendental.

Prof. Dr. Musa Asy’arie adalah seorang filsuf dan cendekiawan Muslim yang unik karena mampu memadukan kedalaman teoretis filsafat Islam dengan praktik nyata dunia bisnis. Sebagai mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia bukan hanya seorang pemikir akademis, tetapi juga praktisi kewirausahaan yang sukses. Baginya, filsafat bukan sekadar abstraksi di awang-awang, melainkan alat transformatif untuk mengubah realitas kehidupan masyarakat.

Salah satu pokok pemikiran terpentingnya adalah gagasan “Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan”. Ia berargumen bahwa perubahan besar dalam masyarakat tidak harus dilakukan melalui pertumpahan darah atau gejolak politik yang destruktif, melainkan melalui perubahan nalar dan mentalitas budaya. Perubahan ini bermula dari pemahaman yang benar tentang hakikat manusia. Dalam disertasinya, Musa menegaskan bahwa manusia dalam Al-Qur’an adalah makhluk yang “mencipta”, yang artinya eksistensinya dinilai dari karya nyata dan amal saleh yang memberikan dampak bagi peradaban.

Musa Asy’arie juga dikenal karena keberaniannya merekonstruksi makna filsafat dalam Islam. Ia menolak anggapan bahwa filsafat adalah produk asing atau sekadar adaptasi Yunani. Baginya, berfilsafat adalah “sunnah Nabi dalam berpikir”—sebuah proses radikal untuk menemukan kebenaran yang didorong oleh wahyu dan akal secara sinkron. Ia memperkenalkan metode “rasional transendental,” di mana ijtihad (usaha berpikir) harus dibarengi dengan ittihad (kedekatan spiritual dengan Tuhan), sehingga hasil pemikiran tersebut tidak hanya cerdas secara logika tetapi juga memiliki kedalaman moral.

Di bidang ekonomi, ia mengembangkan “Etika Entrepreneurship” yang berbasis religiusitas. Ia mengkritik keras mentalitas umat Islam yang hanya pandai berdoa namun malas berusaha secara ekonomi. Baginya, kemiskinan adalah ancaman bagi iman, dan kewirausahaan adalah bentuk ibadah sosial yang nyata. Melalui berbagai tulisannya tentang ekonomi Islam, Musa mengajak umat untuk tidak sekadar terjebak pada persoalan label atau simbol, melainkan fokus pada penciptaan kesejahteraan yang berkeadilan dan mandiri bagi kemanusiaan.

Karya Utama

  • Filsafat Islam: Sunnah Nabi dalam Berpikir (1999) Buku
  • Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan (2002) Buku
  • Filsafat Ekonomi Islam (2015) Buku
  • Konsep Manusia Sebagai Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur'an (1991) Buku (Disertasi)

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026