N. Drijarkara

Kedunggubah, Purworejo, Jawa Tengah · 1913 – 1967
N. Drijarkara
Lahir 1913
Kedunggubah, Purworejo, Jawa Tengah
Wafat 1967
Afiliasi Serikat Yesus (Jesuit), STF Driyarkara (Pendiri), Sanata Dharma
Pendidikan
  • Universitas Gregoriana, Roma (Doktor Filsafat, 1952)
Bidang filsafat manusia (antropologi metafisik), pendidikan, etika

Pokok Pikiran & Kontribusi

Hominisasi dan Humanisasi (Memanusiakan manusia); Cinta Kasih sebagai penggerak eksistensi; pendidikan sebagai pembebasan potensi kemanusiaan; keselarasan antara iman katolik dan nasionalisme Pancasila.

Nicolaus Drijarkara, S.J., adalah “Bapak Filsafat Indonesia” modern yang telah meletakkan landasan ontologis bagi kemanusiaan dan pendidikan nasional. Sebagai seorang intelektual Jesuit, ia adalah orang Indonesia pertama yang secara sistematis mengajarkan filsafat Barat di tingkat universitas setelah meraih gelar doktor dari Roma. Drijarkara hidup di masa krusial pembentukan jati diri bangsa, dan ia menggunakan filsafat bukan untuk berabstraksi, melainkan untuk membangun dasar kemanusiaan bagi republik yang masih muda.

Gagasan sentral yang menjadi warisan abadi Drijarkara adalah konsep “Hominisasi” dan “Humanisasi”. Baginya, menjadi manusia bukanlah sebuah fakta yang statis sejak lahir, melainkan sebuah proses perjuangan yang tiada henti. Hominisasi adalah proses teknis-biologis menjadi spesies manusia, namun Humanisasi adalah proses moral-spiritual untuk menjadi “manusia yang beradab”. Dalam pandangannya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan upaya “memanusiakan manusia muda” agar mereka mampu mencintai kebenaran, keadilan, dan sesama.

Drijarkara juga merupakan pemikir ulung tentang Pancasila. Ia memberikan dasar argumentasi filosofis bahwa Pancasila bukanlah sekadar ideologi politik, melainkan cerminan dari struktur fundamental manusia Indonesia yang bersifat sosial sekaligus religius. Ia menekankan bahwa sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” adalah jembatan yang menghubungkan antara pengakuan terhadap Tuhan dengan keadilan di bumi. Cinta kasih, dalam filsafat Drijarkara, dianggap sebagai penggerak utama segala eksistensi—kekuatan yang memungkinkan manusia untuk keluar dari dirinya sendiri demi orang lain.

Pendiri Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara ini wafat di usia yang relatif muda, namun pengaruhnya terus meluas melalui karya-karyanya yang diterbitkan secara anumerta. Ia berhasil menunjukkan bahwa filsafat bisa menjadi bahasa yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia tanpa kehilangan ketajaman intelektualnya. Warisannya adalah spirit “Driyarkaran”—sebuah pencarian intelektual yang mendalam namun tetap rendah hati, inklusif, dan selalu berorientasi pada kemuliaan martabat manusia. Bagi Drijarkara, berpikir adalah sebuah bentuk doa yang paling aktif bagi kemajuan bangsa.

Karya Utama

  • Filsafat Manusia (1969) Buku (Kumpulan Tulisan)
  • Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (1960) Buku/Esai
  • Percikan Filsafat (1966) Buku
  • "Karya Tulis Drijarkara" (Koleksi lengkap) (2006) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026