Nuruddin al-Raniri

Rander (Gujarat), India · – 1658
Nuruddin al-Raniri
Lahir
Rander (Gujarat), India
Wafat 1658
Afiliasi Kesultanan Aceh, Tarekat Rifaiyah, Mazhab Syafii
Pendidikan
  • Rander, Gujarat
  • Tarim, Hadramaut (Yaman)
Bidang teologi, fikih, sejarah, sastra

Pokok Pikiran & Kontribusi

Penegakan ortodoksi Islam Sunni (Ahlussunnah wal Jamaah); kritik keras terhadap ajaran Wahdatul Wujud (wujudiyyah mulhid); perumusan sejarah dunia dan etika raja melalui Bustan al-Salatin; standarisasi fikih Syafii di Nusantara.

Nuruddin al-Raniri adalah seorang ulama besar dan mufti Kesultanan Aceh yang memainkan peran krusial dalam sejarah pemikiran Islam di Nusantara, khususnya dalam memandukan antara otoritas keagamaan dan kekuasaan negara. Berasal dari Gujarat, India, ia tiba di Aceh pada tahun 1637 di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Thani. Sebagai penasihat kesultanan yang sangat berpengaruh, ia menjadi arsitek utama bagi penegakan ortodoksi Islam Sunni berdasarkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah dan mazhab Syafii di Asia Tenggara.

Kontribusi paling terkenalnya—sekaligus paling kontroversial—adalah serangan intelektualnya terhadap kelompok penganut Wahdatul Wujud yang dipelopori oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Pasai. Al-Raniri menganggap ajaran tersebut sebagai “Wujudiyyah Mulhid” (ateisme atau panteisme yang menyimpang) karena dianggap menyamakan makhluk dengan Pencipta secara substansial. Di bawah pengaruh kekuasaannya sebagai Mufti, ia memimpin gerakan “pemurnian” akidah yang berujung pada fatwa murtad dan pembakaran massal karya-karya mistik di depan Masjid Raya Baiturrahman, Aceh.

Di luar polemik tasawuf, Al-Raniri adalah seorang penulis ensiklopedis yang sangat produktif. Karya monumentalnya, Bustan al-Salatin (Taman Para Raja), merupakan ensiklopedia sejarah dunia universal pertama dalam bahasa Melayu. Kitab ini tidak hanya berisi sejarah para nabi dan raja-raja, tetapi juga panduan etika kepemimpinan, sains, dan geografi. Karya lainnya, Sirat al-Mustaqim, menjadi kitab fikih pertama yang komprehensif dalam bahasa Melayu, yang selama berabad-abad menjadi rujukan utama praktik ibadah umat Islam di seluruh Nusantara.

Al-Raniri juga dikenal sebagai pelopor dalam studi perbandingan agama di Indonesia melalui karyanya Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan. Ia berusaha menjelaskan berbagai aliran kepercayaan di dunia dengan kriteria teologis yang ketat. Meskipun ia meninggalkan Aceh pada tahun 1644 dan kembali ke India, warisan intelektualnya telah membentuk kerangka berpikir ortodoksi Islam yang dominan di Indonesia dan Malaysia hingga masa kini, menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh dalam kodifikasi hukum dan sejarah Islam Melayu.

Karya Utama

  • "Bustan al-Salatin" (Taman Raja-raja) (1638) Ensiklopedia/Sejarah
  • "Sirat al-Mustaqim" (Jalan yang Lurus) (1644) Kitab Fikih
  • Asrar al-Insan fi Ma'rifat al-Ruh wal-Rahman () Teologi
  • Tibyan fi Ma'rifat al-Adyan () Perbandingan Agama

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026