| Lahir | 1933 Surabaya, Jawa Timur |
| Wafat | 2007 |
| Afiliasi | Universitas Indonesia (UI), Majalah Tempo, Prisma |
| Pendidikan |
|
| Bidang | sejarah, budaya, sosiologi |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Membongkar mitos-mitos kekuasaan dan struktur sosial Jawa melalui pendekatan 'Sejarah Mentalitas', serta menganalisis peran kelas Priyayi sebagai perantara kolonial.
Prof. Dr. Ong Hok Ham adalah salah satu sejarawan paling cemerlang dan berpengaruh di Indonesia yang berhasil membawa ilmu sejarah keluar dari “menara gading” akademis menuju ruang publik yang lebih luas. Sebagai intelektual keturunan Tionghoa Peranakan yang sangat mendalami kebudayaan Jawa, ia sering dijuluki sebagai sejarawan yang “lebih Jawa daripada orang Jawa”. Melalui gaya penulisannya yang provokatif, eksentrik, namun berbasis riset kearsipan yang sangat kuat di Yale University, ia meredefinisikan cara bangsa Indonesia memahami masa lalunya sendiri, terutama mengenai struktur kekuasaan dan mentalitas masyarakat.
Inti kontribusi pemikiran Ong Hok Ham adalah penggunaan pendekatan “Sejarah Mentalitas” untuk membedah fenomena sosial-politik. Melalui disertasi monumentalnya tentang Keresidenan Madiun, ia membongkar mitos tentang harmoni pedesaan Jawa dengan menunjukkan bagaimana kelas Priyayi (birokrat tradisional) sering kali berfungsi sebagai instrumen penindasan kolonial terhadap petani demi kepentingan ekonomi Barat. Ia juga sangat tajam dalam menganalisis konsep kekuasaan Jawa yang bersifat mistis, seperti gagasan tentang “Wahyu” kepemimpinan, yang menurutnya sering kali digunakan untuk melegitimasi otoritarianisme modern. Baginya, sejarah bukan sekadar urusan tanggal dan nama besar, melainkan pergulatan struktur sosial dan psikologi massa yang terus berulang.
Sebagai kolumnis produktif di Majalah Tempo dan Kompas, Ong berhasil menjadikan sejarah sebagai alat kritik sosial yang relevan bagi masyarakat awam. Ia sering menghubungkan mitos-mitos rakyat—seperti Tuyul atau Nyi Blorong—dengan fenomena kecemburuan sosial dan dampak kapitalisme di pedesaan. Ia juga memberikan perspektif berharga mengenai posisi Tionghoa dalam sejarah integrasi nasional, menolak dikotomi kaku antara “pribumi” dan “non-pribumi”. Warisan pemikirannya memberikan landasan bagi historiografi Indonesia yang lebih kritis, inklusif, dan manusiawi, menjadikannya salah satu raksasa intelektual yang paling dihormati dalam diskursus sejarah dan kebudayaan Nusantara.
Karya Utama
- The Residency of Madiun: Prijaji and Peasant in the Nineteenth Century (1975) Buku
- Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara (2002) Buku
- Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang (2002) Buku
- Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa (2005) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim