Popo Iskandar

Garut, Jawa Barat · 1927 – 2000
Popo Iskandar
Lahir 1927
Garut, Jawa Barat
Wafat 2000
Afiliasi Seni Rupa ITB, IKIP Bandung, Akademi Jakarta
Pendidikan
  • Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung
Bidang seni, pendidikan, budaya

Pokok Pikiran & Kontribusi

Merumuskan estetika 'Ekspresionisme Minimalis' (Esensialisme) dalam seni lukis modern guna menangkap 'jiwa' objek melalui penyederhanaan bentuk dan kejujuran ekspresi individual.

Popo Iskandar adalah seorang maestro seni lukis modern, pendidik, dan kritikus seni yang memiliki kontribusi fundamental dalam merumuskan estetika modernisme Indonesia. Sebagai salah satu lulusan angkatan pertama Seni Rupa ITB yang dibimbing oleh Ries Mulder, ia berhasil membebaskan diri dari pengaruh akademisme Barat menuju penemuan bahasa visual yang sangat personal dan autentik. Ia bukan sekadar pelukis produktif, melainkan intelektual seni yang secara tekun melakukan refleksi teoretis terhadap proses kreatif, menjadikannya salah satu pemikir seni rupa paling berpengaruh di Nusantara.

Inti kontribusi pemikiran Popo Iskandar adalah konsep “Ekspresionisme Minimalis” atau yang sering ia sebut sebagai Esensialisme. Berbeda dengan pelukis yang mengejar kemiripan visual (realisme), Popo berupaya menangkap esensi atau “jiwa” terdalam dari sebuah objek melalui penyederhanaan bentuk yang ekstrem. Baginya, sebuah lukisan adalah curahan kata hati, di mana garis-garis yang sugestif dan penghematan warna justru mampu menyampaikan pesan puitis yang lebih kuat. Objek ikoniknya, seperti kucing dan ayam jago, bukanlah sekadar binatang, melainkan simbol imajiner yang mewakili karakter manusia dan dinamika alam semesta. Ia menekankan bahwa kemurnian kreativitas individual adalah asas tertinggi dalam seni rupa.

Sebagai pendidik di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan anggota Akademi Jakarta, Popo Iskandar berperan penting dalam membentuk karakter intelektual generasi seniman muda Indonesia. Ia secara vokal menyuarakan pentingnya riset kebudayaan dan kejujuran batin dalam berkarya, menolak seni yang hanya menjadi komoditas dekoratif tanpa kedalaman filosofis. Warisan pemikirannya, yang kini dilestarikan di Griya Seni Popo Iskandar, memberikan landasan tentang bagaimana seni rupa modern Indonesia dapat tetap modern tanpa kehilangan integritas spiritualnya. Sosoknya merupakan bukti bahwa puncak keindahan visual hanya dapat dicapai melalui kedalaman perenungan intelektual.

Karya Utama

  • Potret Diri (Buku Esai Seni) (1980) Buku
  • Kucing Bermata Hijau (Seri Lukisan) (1970) Musik
  • Macan (Seri Lukisan) (1985) Musik

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026