Remy Sylado

Makassar, Sulawesi Selatan · 1945 – 2022
Remy Sylado
Lahir 1945
Makassar, Sulawesi Selatan
Wafat 2022
Afiliasi Angkatan '70, Gerakan Puisi Mbeling
Pendidikan
  • Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)
  • Akademi Bahasa Asing, Jakarta
Bidang sastra, bahasa, seni

Pokok Pikiran & Kontribusi

Melakukan dekonstruksi atas formalisme bahasa Indonesia melalui gerakan 'Puisi Mbeling' serta mempromosikan estetika pluralisme dan sejarah yang terpinggirkan melalui seni multidimensi.

Remy Sylado, nama pena dari Japi Panda Abdiel Tambajong, adalah seorang intelektual polimatik dan sosok “Renaissance Man” Indonesia yang pemikirannya melintasi berbagai disiplin ilmu mulai dari sastra, bahasa, musik, teater, hingga seni rupa. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat kritis terhadap kemapanan dan hegemoni budaya tertentu. Melalui penampilannya yang nyentrik dan penguasaan bahasa yang luar biasa, ia berhasil mendobrak sekat-sekat antara budaya tinggi dan budaya populer, menjadikannya salah satu provokator intelektual paling produktif dan berpengaruh dalam sejarah kesenian modern Indonesia.

Inti kontribusi pemikiran Remy Sylado terletak pada dekonstruksi terhadap formalisme bahasa. Melalui gerakan “Puisi Mbeling” yang ia gagas pada tahun 1970-an, ia melawan kecenderungan estetika puisi yang saat itu dianggap terlalu elitis, suci, dan kaku. Ia mengembalikan bahasa kepada rakyat dengan menggunakan diksi keseharian, humor, dan kritik sosial yang sangat tajam. Sebagai seorang “Munsyi” (ahli bahasa), ia menolak pembakuan bahasa yang mengabaikan sejarah etimologi dan dinamika organik masyarakat. Melalui buku monumentalnya, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, ia menunjukkan betapa kayanya serapan budaya dalam identitas nasional kita, sekaligus mengingatkan bahwa bahasa adalah organisme hidup yang tidak bisa dipenjara dalam aturan birokrasi.

Keberpihakan Remy terhadap sejarah yang terpinggirkan sangat nyata dalam karya-karya fiksi risetnya. Melalui novel Ca-Bau-Kan, ia mengangkat kembali peran vital komunitas Tionghoa dalam pembentukan sejarah dan kebudayaan Indonesia yang sering kali dihapus oleh narasi tunggal penguasa. Ia meyakini bahwa seni adalah alat komunikasi gagasan yang harus mampu membangkitkan kesadaran kolektif tentang pluralisme. Warisan pemikirannya menawarkan semangat kemerdekaan berpikir dan kejujuran sejarah, menjadikannya ikon abadi bagi para intelektual yang memilih untuk terus menggugat kemapanan demi kebenaran yang lebih inklusif.

Karya Utama

  • Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa (1999) Buku
  • 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing (2003) Buku
  • Puisi Mbeling (Antologi) (2004) Buku
  • Kerudung Merah Kirmizi (2002) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026