Roehana Koeddoes

Koto Gadang, Sumatera Barat · 1884 – 1972
Roehana Koeddoes
Lahir 1884
Koto Gadang, Sumatera Barat
Wafat 1972
Afiliasi Soenting Melajoe (Pendiri), Amai Setia
Pendidikan
  • Belajar Mandiri (Otodidak)
Bidang jurnalisme, pendidikan perempuan, emansipasi

Pokok Pikiran & Kontribusi

Emansipasi perempuan melalui kecerdasan intelektual dan ekonomi; kemandirian berpikir kaum wanita Minangkabau; pendidikan sebagai alat melawan kolonialisme; jurnalisme sebagai suara bagi perempuan yang terpingit.

Roehana Koeddoes adalah permata intelektual dari tanah Minang yang mencatatkan diri sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Meskipun lahir di era ketika pendidikan bagi perempuan bumiputera sangat terbatas, Roehana berhasil memerdekakan pikirannya secara mandiri melalui kegemarannya membaca buku-buku berbahasa Belanda dan Melayu yang dibawa ayahnya. Ia bukan sekadar pejuang emansipasi dalam arti sempit; ia adalah seorang visioner yang meyakini bahwa pembebasan perempuan harus dimulai dari kedaulatan ekonomi dan ketajaman nalar.

Sumbangsih sejarahnya yang paling fenomenal adalah pendirian surat kabar Soenting Melajoe pada tahun 1912. Media ini ia jadikan sebagai corong penyambung lidah bagi perempuan di seluruh Sumatera dan luar daerah untuk saling bertukar pikiran tentang hak-hak mereka. Melalui tulisan-tulisannya, ia mendorong perempuan untuk keluar dari stagnasi adat yang mengekang tanpa harus kehilangan identitas budayanya. Ia mengajarkan bahwa “Perempuan tidak akan pernah maju hanya dengan menunggu belas kasihan, tetapi harus bergerak maju dengan ilmu pengetahuan.”

Di bidang pendidikan, Roehana mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS), sebuah sekolah yang mengajarkan berbagai keterampilan praktis (seperti menenun dan menjahit) yang dipadu dengan pendidikan literasi dan manajemen bisnis. Baginya, perempuan yang cerdik secara ekonomi tidak akan mudah ditindas atau disepelekan. Roehana menunjukkan sosok intelektual organik yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam, kearifan lokal Minangkabau, dan semangat modernitas secara harmonis. Ia adalah saudara tiri dari Sutan Sjahrir, yang darinya semangat perlawanan terhadap kolonialisme juga mengalir deras.

Hingga masa tuanya, Roehana Koeddoes tetap konsisten menjadi pendidik bagi bangsanya. Namanya kini diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, sebuah pengakuan terlambat namun sangat layak bagi dedikasi seumur hidupnya. Warisannya adalah sebuah tradisi jurnalisme perempuan yang kritis dan berpihak pada kebenaran. Ia telah membuktikan bahwa pena seorang perempuan dari desa kecil di Koto Gadang mampu menggetarkan sendi-sendi kekuasaan kolonial dan membangkitkan harga diri seluruh kaum perempuan di Nusantara.

Karya Utama

  • "Soenting Melajoe" (Surat Kabar Perempuan pertama) (1912) Media Massa
  • "Sekolah Kerajinan Amai Setia" (KAS) (1911) Institusi Pendidikan

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026