Rosihan Anwar
| Lahir | 1922 Kubu Gadang, Sumatera Barat |
| Wafat | 2011 |
| Afiliasi | Harian Pedoman, PWI, Perfini |
| Pendidikan |
|
| Bidang | jurnalisme, sejarah, sastra, kritik film |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Jurnalisme sebagai pencatat sejarah sekaligus pengkritik kekuasaan; kejujuran intelektual wartawan; 'Menulis apa yang terjadi, bukan apa yang diinginkan penguasa'; pentingnya memori kolektif bangsa dalam bentuk catatan harian sejarah.
H. Rosihan Anwar adalah begawan jurnalisme Indonesia yang dijuluki sebagai “Wartawan Lima Zaman”. Kariernya yang membentang sejak masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, era Soekarno, Soeharto, hingga masa Reformasi, menjadikannya sebagai saksi mata sekaligus pencatat sejarah paling tekun yang pernah dimiliki bangsa ini. Rosihan bukan sekadar pelapor berita; ia adalah seorang intelektual publik yang menggunakan pena sebagai senjata untuk menjaga akal sehat bangsa dari distorsi kekuasaan.
Kontribusi intelektual terbesarnya adalah dalam genre Petite Histoire atau “Sejarah Kecil”. Ia percaya bahwa sejarah suatu bangsa tidak hanya dibentuk oleh keputusan-keputusan besar di istana, melainkan juga oleh detail-detail kemanusiaan, anekdot, dan peristiwa kecil yang sering kali diabaikan oleh sejarawan formal. Melalui ribuan kolomnya, ia merajut memori kolektif Indonesia dengan gaya bahasa yang segar, kritis, dan penuh humor satir. Baginya, jurnalisme adalah “literatur dalam ketergesaan” yang harus tetap berpijak pada kejujuran fakta yang tak tergoyahkan.
Rosihan Anwar juga merupakan peletak dasar bagi kritik film dan perfilman nasional. Bersama Usmar Ismail, ia mendirikan Perfini untuk menciptakan film-film yang berjiwa Indonesia. Sebagai pemimpin redaksi harian Pedoman yang berulang kali dibredel karena kekritisannya, ia menunjukkan integritas moral seorang wartawan yang tidak mau terbeli oleh jabatan atau kemewahan. Ia mengajarkan bahwa kemandirian berpikir adalah modal utama bagi seorang intelektual. Meskipun sering bersilang jalan dengan penguasa, objektivitasnya tetap dihormati oleh semua kalangan.
Wafat pada tahun 2011 dalam usia 89 tahun, ia tetap menulis hingga hari-hari terakhirnya. Warisannya adalah standar etika jurnalisme yang sangat tinggi: bahwa seorang wartawan tidak boleh pernah pensiun dari tugasnya menyuarakan kebenaran. Ia telah mendokumentasikan perjalanan Indonesia dengan sangat lengkap dan bernuansa, menjadikannya sebagai “guru bangsa” bagi generasi jurnalis dan sejarawan berikutnya. Rosihan Anwar adalah bukti bahwa catatan seorang wartawan yang jujur akan menjadi dokumen sejarah yang paling berharga bagi peradaban bangsa.
Karya Utama
- "Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia" (Multi-volume) (2004-2012) Buku (Sejarah)
- "Menulis Dalam Air" (Autobiografi) (1983) Buku
- "Harian Pedoman" (Redaktur Pelaksana) (1948-1974) Media Massa
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim