| Lahir | 1983 Denpasar, Bali |
| Afiliasi | Universitas Indonesia, Gerakan Bali Tolak Reklamasi |
| Pendidikan |
|
| Bidang | filsafat lingkungan (ekofenomenologi), ekofeminisme, etika, sastra |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Ekofenomenologi sebagai cara pandang subjek terhadap alam; hak hidup alam (biotik) yang setara; ekofeminisme sebagai perlawanan terhadap eksploitasi alam dan perempuan oleh patriarki; Tri Hita Karana dalam konteks modern.
Dr. Luh Gede Saraswati Putri, yang lebih dikenal sebagai Saras Dewi, adalah representasi dari intelektual muda Indonesia yang berani mengawinkan teori filsafat yang abstrak dengan aktivisme lingkungan yang konkret. Berasal dari Bali, ia membawa semangat spiritualitas “Pulau Dewata” ke dalam koridor akademik Universitas Indonesia sebagai dosen dan peneliti. Saras dikenal bukan hanya karena kecerdasannya di ruang kelas, tetapi juga karena keberaniannya turun ke jalan membela kelestarian alam, menjadikannya ikon ekofeminisme kontemporer di Nusantara.
Kontribusi intelektual terpentingnya adalah pengembangan konsep “Ekofenomenologi”. Melalui karyanya yang berjudul sama, Saras mengajak manusia untuk tidak lagi melihat alam sebagai sekadar “objek” eksploitasi atau latar belakang ekonomi, melainkan sebagai “subjek” yang memiliki hak biotik untuk hidup dan lestari. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, ia menekankan pentingnya kesadaran intensionalitas manusia terhadap alam semesta. Baginya, krisis ekologi yang kita hadapi saat ini sebenarnya bermuara dari krisis perspektif filosofis yang terlalu antroposentris (berpusat pada manusia).
Sebagai seorang penganut ekofeminisme, Saras secara tajam menganalisis keterkaitan antara penindasan terhadap perempuan dan perusakan alam oleh sistem patriarki yang serakah. Ia melihat bahwa tubuh perempuan dan “tubuh” bumi seringkali diperlakukan dengan pola dominasi yang sama. Keyakinan ini ia manifestasikan dalam keterlibatan aktifnya pada gerakan “Bali Tolak Reklamasi” di Teluk Benoa, di mana ia menggunakan otoritas intelektualnya untuk membela hak-hak ekologis dan kedaulatan budaya masyarakat lokal.
Selain filsafat, Saras Dewi memiliki sisi kreatif sebagai penyair dan musisi. Antologi puisinya, Kekasih Teluk, merupakan jeritan estetis yang menyuarakan kecintaannya pada tanah kelahirannya. Ia membuktikan bahwa seorang intelektual sejati harus memiliki sensitivitas rasa yang tinggi untuk bisa memperjuangkan keadilan. Warisan Saras Dewi adalah sebuah model “Intelektual Biofilik”—individu yang mencintai kehidupan dan menggunakan seluruh alat pikirnya untuk memastikan bahwa bumi dan seluruh isinya dapat terus berdampingan dalam harmoni yang adil dan bermartabat.
Karya Utama
- Ekofenomenologi (2015) Buku
- Kekasih Teluk (2017) Antologi Puisi
- Hak Asasi Manusia (2006) Buku
- Cinta Bukan Cokelat (2010) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim