Sartono Kartodirdjo
| Lahir | 1921 Wonogiri, Jawa Tengah |
| Wafat | 2007 |
| Afiliasi | Universitas Gadjah Mada (UGM) |
| Pendidikan |
|
| Bidang | ilmu sejarah, historiografi, sosiologi perdesaan |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Historiografi Indonesia-sentris; pendekatan multidimensi dalam sejarah; sejarah dari bawah (kaum petani/rakyat jelata); kritik terhadap sejarah yang hanya berfokus pada elit dan kekuasaan kolonial.
Prof. Dr. Aloysius Sartono Kartodirdjo adalah raksasa intelektual yang diakui sebagai “Bapak Sejarah Indonesia Modern”. Ia melakukan revolusi epistemologis dalam cara bangsa ini melihat masa lalunya. Sebelum Sartono, sejarah Indonesia ditulis dengan kacamata Eropasentris yang menjadikan penjajah Belanda sebagai subjek utama. Sartono secara radikal membalikkan perspektif tersebut menjadi “Indonesia-sentris”, di mana rakyat Indonesia—terutama petani dan kaum marjinal—ditempatkan sebagai penggerak utama sejarah yang memiliki agensi dan martabatnya sendiri.
Mahakaryanya, The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, adalah tonggak sejarah intelektual nasional. Melalui disertasi tersebut, ia memperkenalkan “Pendekatan Multidimensi”—yaitu penggunaan ilmu sosiologi, antropologi, dan psikologi untuk membedah peristiwa sejarah. Ia membuktikan bahwa perlawanan rakyat Banten bukanlah sekadar kerusuhan tanpa arah, melainkan sebuah gerakan sosial yang memiliki basis struktur ekonomi dan sistem kepercayaan yang matang. Sartono mengajarkan bahwa sejarah yang benar harus ditulis “dari bawah” (history from below), bukan sekadar catatan tentang para raja dan jenderal.
Sebagai guru besar di UGM, ia membangun fondasi akademik sejarah yang sangat kokoh dan inklusif. Ia adalah intelektual yang sangat berhati-hati terhadap politisasi sejarah; ia pernah mengundurkan diri dari tim penyusun Sejarah Nasional Indonesia karena menolak tunduk pada tekanan politik penguasa saat itu yang ingin mengubah fakta demi legitimasi kekuasaan. Baginya, sejarawan adalah penjaga kebenaran yang tidak boleh terbeli. Integritas moralnya yang sangat tinggi menjadikannya sosok “Hati Nurani Bangsa” di dunia akademik.
Hingga akhir hayatnya, Sartono tetap berpikiran kritis dan hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Warisannya adalah sebuah visi luas tentang identitas keindonesiaan yang berakar pada kekuatan rakyat kecil. Ia telah melahirkan ribuan murid yang terus membawa semangat metodologinya hingga hari ini. Sartono Kartodirdjo telah membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan alat untuk membangun kesadaran kritis sebuah bangsa agar tidak terjebak dalam mitos-mitos yang membius.
Karya Utama
- The Peasants' Revolt of Banten in 1888 (1966) Buku (Disertasi)
- Pengantar Sejarah Indonesia Baru (1500-1900) (1987) Buku
- Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (1992) Buku (Metodologi)
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim