Satryo Brodjonegoro
| Lahir | 1956 Jakarta |
| Wafat | - |
| Afiliasi | Institut Teknologi Bandung, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) |
| Pendidikan |
|
| Bidang | Teknik & Infrastruktur, Kebijakan Publik, Pendidikan, Sains & Teknologi |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Otonomi Pendidikan Tinggi (PTN-BH); World Class University; Budaya Ilmiah (Scientific Culture); Integrasi Riset dan Industri; Kedaulatan Sains.
Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro adalah tokoh sentral dalam transformasi pendidikan tinggi di Indonesia pada era milenium. Sebagai seorang akademisi teknik mesin dari ITB dan UC Berkeley, ia membawa perspektif teknokratik yang kuat ke dalam kebijakan publik. Kontribusi terbesarnya terletak pada reposisi universitas di Indonesia dari sekadar lembaga pengajaran menjadi institusi riset yang mandiri dan berdaya saing global. Ia adalah arsitek utama konsep otonomi kampus yang melahirkan status Badan Hukum Milik Negara (BHMN), yang kini berkembang menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH).
Pemikiran Satryo berakar pada keyakinan bahwa kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh kemajuan sains dan teknologinya, yang hanya bisa dicapai melalui “Budaya Ilmiah” (Scientific Culture). Selama menjabat sebagai Dirjen Dikti (1999–2007), ia mendorong standar publikasi internasional dan kompetisi antar-universitas guna mencapai predikat World Class University. Baginya, universitas tidak boleh menjadi menara gading; riset harus memiliki relevansi langsung terhadap kemandirian ekonomi dan kedaulatan pangan nasional. Ia menekankan bahwa inovasi tidak hanya lahir dari laboratorium, tetapi dari ekosistem yang menghargai kebebasan akademik dan integritas data.
Sebagai Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) periode 2018–2023, Satryo terus menyuarakan pentingnya pendanaan riset yang berkelanjutan dan perlunya kebijakan berbasis sains (science-based policy). Ia mengkritik cara pandang birokrasi yang seringkali menghambat kreativitas peneliti. Di tengah disrupsi kecerdasan buatan, ia mendorong sistem pendidikan untuk beralih fokus pada kemampuan adaptasi dan berpikir kritis mahasiswa. Meskipun perjalanannya di dunia birokrasi sempat diwarnai dinamika kepemimpinan, warisannya dalam meletakkan fondasi kemandirian perguruan tinggi tetap menjadi pilar utama sistem pendidikan tinggi modern Indonesia.
Karya Utama
- Higher Education Long-Term Strategy (HELTS) 2003–2010 (2003) Dokumen Kebijakan
- MDGs Sebentar Lagi - Sanggupkah Kita Menghapus Kemiskinan Dunia (2010) Buku (Editor)
- The Mechanism of Two and Three Body Abrasive Wear in Ductile Metals (1985) Disertasi/Jurnal
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim