Saur Marlina Manurung
| Lahir | 1972 Jakarta |
| Afiliasi | Sokola Institute (Sokola Rimba), Ramon Magsaysay Award Foundation |
| Pendidikan |
|
| Bidang | pendidikan, antropologi, aktivisme |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Mengadvokasi 'Pendidikan yang Memerdekakan' bagi masyarakat adat melalui metodologi antropologis yang menghargai kearifan lokal dan fungsionalitas literasi untuk advokasi mandiri.
Saur Marlina Manurung, yang lebih dikenal secara luas sebagai Butet Manurung, adalah seorang intelektual lapangan dan antropolog pejuang yang telah merevolusi cara pandang terhadap pendidikan bagi masyarakat adat di Indonesia. Di tengah dominasi sistem pendidikan formal yang cenderung menyeragamkan (homogenisasi), Butet hadir dengan menawarkan paradigma alternatif yang menempatkan keunikan budaya dan kebutuhan riil komunitas sebagai inti dari proses belajar. Kiprahnya melalui pendirian Sokola Rimba merupakan sebuah ijtihad intelektual yang berhasil menjembatani dunia modern dengan kearifan tradisional masyarakat pedalaman Nusantara.
Pemikiran utama Butet Manurung berakar pada prinsip “Pendidikan sebagai Alat Advokasi”. Ia meyakini bahwa pendidikan bagi masyarakat adat tidak boleh bertujuan untuk “memodernkan” mereka agar tercerabut dari akarnya, melainkan harus membekali mereka dengan kemampuan literasi fungsional (baca, tulis, hitung) agar mampu mempertahankan hak-hak mereka—seperti hak atas tanah ulayat dan kelestarian hutan—dari eksploitasi pihak luar. Melalui karyanya, Sokola Rimba, ia merumuskan metodologi “Kurikulum Berbasis Masalah” di mana materi pelajaran disesuaikan langsung dengan tantangan hidup sehari-hari komunitas adat. Baginya, seorang pengajar harus mampu melebur dan mengikuti irama kehidupan masyarakat setempat agar pendidikan menjadi proses yang partisipatif dan setara.
Kontribusi intelektual Butet telah mendapatkan pengakuan dunia, termasuk meraih Ramon Magsaysay Award yang sering disebut sebagai Nobel-nya Asia. Ia membuktikan bahwa antropologi bukan sekadar ilmu untuk mengamati objek secara pasif, melainkan disiplin yang harus terlibat aktif dalam pemberdayaan kemanusiaan. Melalui Sokola Institute, ia terus memperluas jaringan pendidikan alternatif ke berbagai komunitas adat di seluruh pelosok Indonesia. Warisan pemikirannya memberikan inspirasi tentang pentingnya keragaman cara belajar dan kedaulatan pengetahuan bagi setiap warga bangsa, menjadikannya salah satu pemikir pendidikan paling progresif di Indonesia kontemporer.
Karya Utama
- Sokola Rimba: Pengalaman Mengajar di Hutan Bukit Duabelas (2007) Buku
- The Jungle School (2012) Buku
- Kurikulum Berbasis Masalah untuk Masyarakat Adat (Metodologi) (2003) Esai
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim