| Lahir | 1926 Kebumen, Jawa Tengah |
| Wafat | 2012 |
| Afiliasi | IPB University, Sayogyo Institute, Bappenas |
| Pendidikan |
|
| Bidang | sosiologi, ekonomi, pertanian |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Merumuskan Garis Kemiskinan Sayogyo berbasis kecukupan pangan serta mengadvokasi reforma agraria dan pembangunan yang memihak pada buruh tani dan golongan terbelakang.
Prof. Dr. Ir. Sayogyo (lahir dengan nama Sri Kusumo Kampto Utomo) adalah seorang intelektual besar yang dihormati sebagai “Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia”. Sepanjang hayatnya, ia mendedikasikan diri untuk memahami denyut nadi kehidupan masyarakat desa dan memperjuangkan keadilan bagi mereka yang terpinggirkan oleh proses pembangunan. Sebagai Rektor IPB dan pendiri pusat studi pembangunan pedesaan, ia meletakkan dasar metodologis bagi kebijakan penanggulangan kemiskinan di Indonesia yang berbasis pada realitas objektif di lapangan, bukan sekadar teori teknokratis.
Kontribusi intelektual Sayogyo yang paling fenomenal adalah perumusan “Garis Kemiskinan Sayogyo” pada tahun 1977. Di saat pemerintah menggunakan indikator pendapatan yang sering kali tidak akurat, Sayogyo menawarkan pendekatan kecukupan pangan (setara nilai tukar beras) sebagai ukuran kesejahteraan. Ia berargumen bahwa kemiskinan sejati adalah ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan kalori minimal. Pemikiran ini menjadi standar awal bagi negara dalam memetakan jumlah penduduk miskin secara lebih manusiawi. Selain itu, ia adalah pembela gigih Reforma Agraria; baginya, kemiskinan di desa berakar pada ketimpangan penguasaan tanah, di mana modernisasi (seperti Revolusi Hijau) sering kali justru meminggirkan buruh tani kecil.
Filosofi hidup Sayogyo terangkum dalam prinsip “Mendahulukan yang Terbelakang”. Ia meyakini bahwa keberhasilan pembangunan sebuah bangsa harus diukur dari kemajuan kelompoknya yang paling lemah. Melalui ratusan karya ilmiah dan pengabdiannya, ia secara konsisten melakukan otokritik terhadap kebijakan pembangunan Orde Baru yang dianggapnya terlalu elitis. Warisan pemikirannya memberikan landasan etis bagi para sosiolog dan pembuat kebijakan untuk selalu berpihak pada kedaulatan petani dan kemandirian desa. Sosoknya merupakan bukti nyata bahwa kesarjanaan sejati harus memiliki keberpihakan moral yang jelas pada keadilan sosial.
Karya Utama
- Sosiologi Pedesaan (Kumpulan Bacaan) (1982) Buku
- Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan (1977) Artikel
- Masyarakat Transmigran Spontan di Daerah Way Sekampung (Lampung) (1957) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim