| Lahir | 1952 Batu, Malang, Jawa Timur |
| Afiliasi | Serikat Yesus (Jesuit), Harian Kompas, STF Driyarkara |
| Pendidikan |
|
| Bidang | filsafat, teologi, sastra, budaya, jurnalisme |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Teologi kaum marginal; mesianisme Jawa (Ratu Adil); estetika penderitaan rakyat kecil; filosofi sepak bola sebagai refleksi kemanusiaan; kearifan pewayangan (Semar).
Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, S.J., atau yang akrab disapa Romo Sindhu, adalah seorang intelektual Jesuit yang memiliki kemampuan langka dalam meramu teologi tingkat tinggi dengan budaya populer dan penderitaan rakyat kecil. Sebagai wartawan senior harian Kompas, tulisannya dikenal memiliki kedalaman filosofis namun tetap emosional dan puitis. Ia adalah “pastor jalanan” yang menemukan kehadiran Tuhan bukan hanya di dalam gereja, tetapi juga di stadion sepak bola, pasar tradisional, dan di tengah masyarakat yang terpinggirkan.
Pemikiran filosofis Sindhunata berakar kuat pada upaya memahami “penderitaan” dan “harapan” masyarakat bawah. Disertasi doktornya di Jerman membedah tentang mesianisme dalam masyarakat Jawa atau kerinduan akan sosok Ratu Adil, yang ia lihat sebagai ekspresi protes terhadap ketidakadilan struktural. Baginya, tugas seorang intelektual dan rohaniwan adalah menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara (vox populi vox dei). Ia mempopulerkan estetika “anak bajang” atau sosok-sosok yang dianggap cacat dan diabaikan dunia namun sebenarnya memikul beban kemanusiaan yang mulia.
Karya monumentalnya, Anak Bajang Menggiring Angin, merupakan dekonstruksi terhadap epos Ramayana yang memotret cinta, kekuasaan, dan nasib secara filosofis. Selain sastra, ia dikenal sebagai pengamat sepak bola dunia yang legendaris di Indonesia. Namun, tulisan-tulisannya tentang sepak bola tidak pernah hanya bicara statistik; ia melihat sepak bola sebagai tragedi dan komedi kehidupan, sebuah panggung di mana nasib manusia dipertaruhkan antara kemenangan yang fana dan kekalahan yang terhormat.
Ketertarikannya pada pemikiran Rene Girard tentang “kambing hitam” memperlihatkan kecemasannya terhadap fenomena kekerasan massa dan pengkambinghitaman dalam masyarakat modern. Melalui rumah budaya Omah Petroek yang didirikannya di lereng Merapi, Sindhunata terus merawat keragaman budaya dan toleransi. Warisannya adalah sebuah model intelektual yang inklusif—seorang imam Katolik yang sangat mencintai budaya Jawa dan pewayangan, seorang filsuf yang gemar bicara bola, dan seorang pejuang kemanusiaan yang percaya bahwa keselamatan hanya mungkin dicapai melalui keberpihakan pada kaum yang paling menderita.
Karya Utama
- Anak Bajang Menggiring Angin (1983) Novel
- Kambing Hitam: Teori Rene Girard (2006) Buku Filsafat
- Air Kata-Kata (2003) Puisi
- Air Mata Bola (2002) Buku (Esai Sepak Bola)
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim