| Lahir | 1919 Pangkalan Brandan, Sumatera Timur |
| Wafat | 1998 |
| Afiliasi | Partai Sosialis Indonesia (PSI), BP-KNIP |
| Pendidikan |
|
| Bidang | politik, sosiologi |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Mengadvokasi 'Sosialisme Demokrasi' yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan dan kedaulatan rakyat sebagai antitesis terhadap komunisme totaliter dan fasisme.
Soebadio Sastrosatomo adalah seorang intelektual-politisi dan ideolog utama aliran Sosialisme Demokrasi di Indonesia. Sebagai tokoh kunci Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan “tangan kanan” Sutan Sjahrir, ia memainkan peran krusial dalam merumuskan arah politik bangsa yang berbasis pada nalar dan integritas moral. Dikenal sebagai “pelanggan penjara tiga zaman” (Jepang, Sukarno, dan Soeharto), Soebadio merupakan simbol keteguhan prinsip seorang pemikir yang menolak berkompromi dengan segala bentuk otoritarianisme, baik itu fasisme, Demokrasi Terpimpin, maupun militerisme Orde Baru.
Inti pemikiran Soebadio terletak pada konsep “Sosialisme Kerakyatan” yang humanis. Berbeda dengan sosialisme-komunisme yang sering kali mengorbankan kebebasan individu demi kolektivitas, Soebadio menekankan bahwa keadilan sosial hanya dapat dicapai melalui jalan demokrasi yang menghargai hak asasi manusia. Baginya, tujuan akhir politik adalah pembebasan manusia Indonesia dari kemiskinan dan kebodohan melalui pendidikan politik yang sistematis. Ia meyakini bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan tidak dapat dibangun di atas fanatisme massa, melainkan harus dipimpin oleh kader-kader intelektual yang memiliki kejernihan pikir dan kecakapan teknokratis.
Karya-karya tulisnya, seperti Perjuangan Revolusi dan Kilas Balik Revolusi, bukan sekadar memoar sejarah, melainkan refleksi kritis terhadap dinamika kekuasaan di Indonesia. Ia secara tajam membedah bagaimana ambisi kekuasaan sering kali mengesampingkan cita-cita luhur proklamasi. Melalui pemikiran dan aksinya, Soebadio mewariskan tradisi intelektualisme dalam politik—sebuah pandangan bahwa politik harus dikerjakan sebagai profesi yang terhormat dan berbasis ilmu pengetahuan. Warisannya tetap hidup di kalangan aktivis demokrasi sebagai pengingat akan pentingnya menjaga martabat kemanusiaan di tengah pusaran kekuasaan.
Karya Utama
- Perjuangan Revolusi (1987) Buku
- Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, dan Peristiwa (1987) Buku
- Era Baru, Pemimpin Baru: Badio Menjawab (1997) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim