Soedjatmoko

Sawahlunto, Sumatera Barat · 1922 – 1989
Soedjatmoko
Lahir 1922
Sawahlunto, Sumatera Barat
Wafat 1989
Afiliasi Partai Sosialis Indonesia (PSI), PBB, Universitas PBB (UNU)
Pendidikan
  • Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku), Jakarta (Tidak Selesai)
  • Harvard University, AS
Bidang filsafat pembangunan, sejarah, sosiologi, diplomasi

Pokok Pikiran & Kontribusi

Pembangunan sebagai proses pembebasan manusia; visi 'Indonesiasentris' dalam sejarah; peran intelektual sebagai penjaga nilai di tengah kekuasaan; hubungan antara kebudayaan, agama, dan demokrasi.

Soedjatmoko, yang akrab disapa Bung Koko, adalah salah satu pemikir Indonesia paling cemerlang yang diakui di panggung intelektual dunia. Sebagai sosok yang multidimensional—diplomat, sejarawan, sekaligus filsuf pembangunan—ia memiliki kemampuan langka untuk membedah problem lokal Indonesia dengan lensa global yang canggih. Meski tidak memiliki gelar akademik formal karena gejolak perang, ia pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNU) di Tokyo, sebuah pengakuan atas kapasitas intelektualnya yang melampaui sekat institusional.

Inti dari pemikiran Soedjatmoko adalah konsep “Pembangunan yang Memanusiakan”. Ia adalah kritikus vokal terhadap pola pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan angka statistik materiil namun mengabaikan dimensi spiritual dan kedaulatan manusia. Dalam karyanya, Etika Pembebasan, ia menekankan bahwa tujuan akhir dari bernegara dan membangun ekonomi adalah memerdekakan rakyat dari kebodohan, rasa takut, dan kemiskinan. Baginya, pembangunan yang sejati harus memberikan ruang bagi ekspresi kebudayaan dan kebebasan berpikir.

Soedjatmoko juga merupakan pionir dalam dekolonisasi sejarah Indonesia. Melalui karyanya tentang historiografi, ia mendorong para peneliti untuk menggunakan perspektif “Indonesiasentris”—yaitu melihat sejarah dari dalam pengalaman dan kepentingan rakyat Indonesia sendiri, bukan sekadar kelanjutan dari narasi kolonial. Ia percaya bahwa pemahaman sejarah yang benar adalah fondasi bagi rasa percaya diri sebuah bangsa pascakolonial. Bagi Soedjatmoko, sejarah adalah alat untuk merumuskan masa depan yang lebih bermartabat.

Sepanjang hidupnya, ia tetap menjadi sosok “intelektual publik” yang independen, yang berani bersikap kritis terhadap otoritarianisme baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Warisannya adalah spirit humanisme universal yang berakar kuat pada bumi Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya sibuk membangun infrastruktur fisik, tetapi juga terus menerus mengasah nalar kritis dan menjaga integritas moral para pemimpinnya. Soedjatmoko adalah cahaya intelektual yang terus menantang kita untuk berani memimpikan Indonesia yang lebih cerdas dan adil.

Karya Utama

  • Etika Pembebasan (1984) Buku
  • "An Introduction to Indonesian Historiography" (Editor) (1964) Buku Sejarah
  • Dimensi Manusia dalam Pembangunan (1983) Kumpulan Esai

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026