Sutan Takdir Alisjahbana
| Lahir | 1908 Natal, Sumatera Utara |
| Wafat | 1994 |
| Afiliasi | Poedjangga Baroe, Universitas Nasional |
| Pendidikan |
|
| Bidang | kebudayaan, sastra, bahasa |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Mendorong orientasi kebudayaan Indonesia ke arah kemajuan, rasionalitas, dan modernitas (Barat) melalui sastra dan pembaruan tata bahasa Indonesia.
Sutan Takdir Alisjahbana (1908–1994), atau STA, adalah tokoh raksasa dalam sejarah sastra, bahasa, dan pemikiran kebudayaan Indonesia. Sebagai salah satu pendiri majalah Poedjangga Baroe, ia adalah advokat gigih bagi modernisasi Indonesia di tengah pergeseran dari zaman kolonial menuju kemerdekaan.
STA dikenal karena pandangannya yang sangat pro-modernitas dan rasionalitas. Dalam “Polemik Kebudayaan” yang terkenal pada era 1930-an, ia berargumen bahwa Indonesia harus berani meninggalkan stagnasi masa lalu dan mengadopsi semangat dinamis kebudayaan Barat—yakni intelektualisme, individualisme, dan materialisme—untuk bisa maju sebagai bangsa yang merdeka. Baginya, modernisasi bukan sekadar adopsi barang, melainkan transformasi total cara berpikir.
Di bidang bahasa, ia adalah perumus tata bahasa Indonesia yang revolusioner. Karyanya, Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia, menjadi landasan bagi standarisasi bahasa nasional. Ia melihat bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan sarana utama bagi logika dan kemajuan intelektual suatu bangsa.
Novelnya yang paling terkenal, Layar Terkembang, mengisahkan emansipasi perempuan dan pergulatan antara tradisi dan cita-cita kemajuan. Meskipun pandangannya sering menuai kritik karena dianggap terlalu mengagungkan Barat, integritas STA dalam memperjuangkan rasionalitas dan kemajuan pendidikan di Indonesia tetap menjadikannya salah satu pemikir paling visioner yang pernah dimiliki bangsa ini.
Karya Utama
- Layar Terkembang (1936) Novel
- Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) Buku
- Polemik Kebudayaan (1948 (Kumpulan Esai)) Buku
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim