Syekh Yusuf al-Makassari

Moncongloe, Gowa, Sulawesi Selatan · 1626 – 1699
Syekh Yusuf al-Makassari
Lahir 1626
Moncongloe, Gowa, Sulawesi Selatan
Wafat 1699
Afiliasi Kesultanan Banten, Tarekat Khalwatiyah, Kesultanan Gowa
Pendidikan
  • Gowa & Cikoang (Agama & Tasawuf)
  • Banten, Aceh, Yaman, Mekkah, Madinah, dan Damaskus
Bidang tasawuf, teologi, perjuangan anti-kolonial

Pokok Pikiran & Kontribusi

Penyelarasan syariat dan hakikat; ajaran tasawuf sebagai kekuatan moral melawan penindasan; tauhid sebagai kesadaran eksistensial ke-fanaan makhluk; penyebaran Islam di Afrika Selatan.

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani adalah figur lintas samudra yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam global dan perlawanan terhadap kolonialisme. Dikenal sebagai “Tuanta Salamaka ri Gowa” (Tuan Guru Penyelamat dari Gowa), ia tidak hanya seorang ulama besar dan mursyid Tarekat Khalwatiyah, tetapi juga panglima gerilya yang gigih melawan VOC di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa.

Perjalanan intelektualnya mencakup rute kosmopolitan abad ke-17, mulai dari Gowa ke Banten, Aceh, hingga pusat-pusat ilmu di Yaman, Mekkah, Madinah, dan Damaskus selama 20 tahun. Di sana, ia memperoleh ijazah dari berbagai tarekat besar (Qadiriyah, Naqshabandiyah, Ba’lawiyah, dan Syattariyah), menjadikannya salah satu ulama paling otoritatif di Asia Tenggara pada masanya. Ketika kembali, ia menemukan Makassar telah jatuh ke tangan Belanda, sehingga ia menetap di Banten dan menjadi penasihat utama Sultan Ageng.

Pokok pemikiran Syekh Yusuf berpusat pada integrasi yang harmonis antara syariat, tarekat, dan hakikat. Ia menekankan bahwa seorang Muslim sejati harus memiliki ketajaman batin (tasawuf) sekaligus ketaatan hukum (fikih). Baginya, tauhid adalah dasar dari segala perlawanan terhadap penindasan: karena hanya Allah yang mutlak, maka segala bentuk penghambaan kepada manusia atau penjajah adalah batil. Keyakinan inilah yang menggerakkan perjuangan bersenjatanya melawan Belanda hingga ia ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka, lalu ke Cape Town, Afrika Selatan.

Di pengasingan Cape Town, Syekh Yusuf justru menjadi motor penggerak komunitas Muslim pertama di benua Afrika bagian selatan. Ia memberikan bimbingan spiritual kepada para budak dan tawanan, menanamkan nilai-nilai harga diri dan kemerdekaan. Warisannya begitu besar hingga Nelson Mandela menyebutnya sebagai salah satu putra Afrika terbaik, dan sebuah wilayah di dekat Cape Town dinamakan Macassar sebagai penghormatan. Syekh Yusuf adalah simbol abadi bahwa pemikiran teologis yang dalam dapat menjadi dasar bagi perjuangan kemanusiaan universal.

Karya Utama

  • "Zubdat al-Asrar" (Intisari Rahasia-rahasia) (1676) Teologi/Tasawuf
  • "Ad-Dur al-Nafis" (Mutiara Berharga) () Tasawuf
  • Kayfiyat az-Zikir () Tasawuf/Zikir
  • Sirr al-Asrar () Tasawuf

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026