| Lahir | 1964 Semarang, Jawa Tengah |
| Afiliasi | IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), BRIN |
| Pendidikan |
|
| Bidang | wirausaha sosial, energi terbarukan, pembangunan perdesaan |
Pokok Pikiran & Kontribusi
Listrik sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar komoditas; model kemandirian energi berbasis komunitas (Mikrohidro); pembangunan peradaban desa melalui penguasaan sumber daya lokal; teknologi tepat guna yang inklusif.
Tri Mumpuni, yang sering dijuluki sebagai “Wanita Listrik Indonesia”, adalah seorang penggerak sosial visioner yang berhasil membuktikan bahwa teknologi tinggi dapat menjadi alat pembebasan yang paling efektif bagi masyarakat di pelosok nusantara. Melalui lembaga IBEKA yang didirikannya bersama sang suami, ia telah menerangi ratusan desa terpencil yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik negara. Bagi Tri Mumpuni, sebatang kabel listrik di tengah hutan bukan sekadar pembawa cahaya, melainkan pembawa martabat dan pintu bagi kemajuan ekonomi rakyat jelata.
Inti dari pemikirannya adalah model pembangunan berbasis komunitas. Ia tidak hanya datang untuk memberikan mesin turbin mikrohidro, tetapi membangun ekosistem sosial di mana masyarakat desa menjadi pemilik, pengoperasi, sekaligus pengambil manfaat dari energi yang dihasilkan. Ia percaya bahwa “Teknologi yang Baik adalah Teknologi yang Memberdayakan”. Dalam pandangannya, kemiskinan di desa-desa Indonesia bukan hanya soal kekurangan materi, melainkan soal hilangnya akses terhadap sumber daya alam mereka sendiri yang kerap diambil oleh entitas besar.
Tri Mumpuni mendapatkan pengakuan dunia atas dedikasinya, termasuk pujian dari Presiden AS Barack Obama dalam Global Entrepreneurship Summit. Ia adalah penerima Ramon Magsaysay Award 2011, yang sering disebut sebagai Hadiah Nobelnya Asia. Namun, baginya, penghargaan tertinggi bukanlah medali, melainkan saat melihat anak-anak desa bisa belajar di malam hari dan industri rumah tangga perdesaan mulai berdenyut. Ia menunjukkan bahwa seorang intelektual harus turun ke akar rumput untuk memastikan bahwa kemajuan peradaban dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.
Hingga kini, ia terus aktif menyuarakan pentingnya kedaulatan energi nasional yang berbasis pada potensi lokal yang melimpah, seperti air dan angin. Tri Mumpuni adalah antitesis dari pembangunan yang bersifat top-down dan hanya mengejar pertumbuhan angka statistik. Ia mengajarkan bahwa Indonesia yang besar bermula dari desa-desa yang berdaya dan mandiri. Warisannya adalah sebuah semangat bahwa dengan ketulusan dan penguasaan ilmu pengetahuan, kita bisa menciptakan perubahan nyata yang berkelanjutan bagi kemanusiaan.
Karya Utama
- Program Listrik Mandiri Mikrohidro IBEKA (1992-Sekarang) Inovasi Sosial/Teknik
- Social Business for Rural Development () Metodologi Pemberdayaan
Sumber Referensi
Kontributor
Anonim