Yudi Latif

Sukabumi, Jawa Barat · 1964
Yudi Latif
Lahir 1964
Sukabumi, Jawa Barat
Afiliasi Reform Institute, PSIK-Indonesia, UKP-PIP/BPIP
Pendidikan
  • Universitas Padjadjaran (S1 Ilmu Komunikasi, 1990)
  • Australian National University (M.A. 1999; Doktor Sosiologi Politik & Komunikasi, 2004)
Bidang sosiologi politik, filsafat kenegaraan, sejarah pemikiran

Pokok Pikiran & Kontribusi

Pancasila sebagai 'Negara Paripurna'; historisitas, rasionalitas, dan aktualitas Pancasila; agama dan negara dalam harmoni; pentingnya integritas etis dalam politik.

Yudi Latif adalah seorang cendekiawan publik dan sosiolog politik kontemporer yang diakui sebagai salah satu mufasir Pancasila paling terkemuka di era modern. Melalui karya magnum opusnya, Negara Paripurna, ia berhasil melakukan rekonstruksi sejarah dan filosofis terhadap dasar negara Indonesia secara sangat komprehensif. Yudi tidak hanya melihat Pancasila sebagai slogan politik, melainkan sebagai sebuah mahakarya intelektual yang mampu mensintesiskan berbagai arus pemikiran besar dunia dengan nilai-nilai luhur nusantara.

Inti dari pemikiran Yudi Latif adalah upaya untuk menghidupkan kembali “Rasionalitas Pancasila” di tengah arus sektarianisme dan materialisme yang menguat. Ia berargumen bahwa Pancasila adalah titik temu (kalimatun sawa) yang memungkinkan Indonesia menjadi negara yang religius sekaligus demokratis, nasionalis sekaligus internasionalis. Baginya, tantangan terbesar bangsa saat ini bukanlah merumuskan ulang dasar negara, melainkan “merealisasikan” nilai-nilai tersebut ke dalam kebijakan publik dan perilaku keseharian para penyelenggara negara.

Yudi juga dikenal karena gagasannya tentang hubungan antara agama dan negara yang bersifat “simbiotik”. Ia menolak pemisahan kaku ala sekularisme barat maupun penyatuan ala teokrasi. Dalam visinya, agama harus menjadi sumber inspirasi etis bagi kehidupan publik, sementara negara menjamin kebebasan dan keadilan bagi semua pemeluk keyakinan. Pemikiran ini ia sampaikan dengan bahasa yang puitis namun tetap tajam secara analitis, menjadikannya jembatan bagi dialog antar kelompok yang sering kali berseberangan.

Meskipun sempat menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), ia memilih untuk kembali ke dunia pemikiran sebagai intelektual independen untuk menjaga kejernihan kritiknya. Warisan Yudi Latif adalah sebuah optimisme intelektual bahwa Indonesia memiliki modal rohani dan mental yang cukup untuk menjadi bangsa yang besar, asalkan kita berani kembali ke “mata air keteladanan” para pendiri bangsa. Ia terus mengingatkan bahwa Pancasila adalah bintang penuntun yang harus terus dirawat cahayanya di tengah kegelapan krisis moralitas politik.

Karya Utama

  • Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2011) Buku
  • Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan (2014) Buku
  • Wawasan Pancasila (2018) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 6 Maret 2026